Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Kamis, 23 April 2015

Sekarang Bulan Rajab 1436 H

Alhamdulillah, saat ini kita telah memasuki salah satu bulan haram yaitu bulan Rajab, salah satu dari empat bulan yang muliakan Allah SWT.

Dan pada malam hari ini termasuk hari yang khusus dan mulia selain hari-hari yang lain, Kamis malam Jum'at, adalah 'Syayyidul Ayyam', bendorone dino, yoiku dino kang dening Kanjeng Nabi SAW dinyatakan sebagai hari yang dilarang berpuasa karena hari Jum'at adalah hari raya bagimu sekalian. Hari raya setiap pekan bagi kita umat Islam. Juga hari untuk makan, minum, dan berdzikir. Ini menunjukkan kekhususan dan keutamaan hari Jum'at. Demikian pula dengan "Arba'atun Hurum", empat bulan haram [suci] merupakan pelajaran bagi kita bahwa Allah SWT menyebutnya secara khusus dalam Al Quran surat At-Taubah ayat 36.


Di awal bulan Rajab 1436 H sekarang ini, saat yang tepat "nandur winih-winih kebagusan" di bulan Rejeb, kemudian dipelihara dan dijaga dengan disirami pada bulan Ruwah, Insya Allah panen di bulan Poso. Hal ini untuk muhasabah [introspeksi] mempersiapkan diri dan memperbaiki diri untuk waktu ke depan [kebelet - pen] bertemu dengan bulan Poso/Romadlon, karena dikatakan :


"Bulan Rajab adalah bulan menanam, Sya'ban bulan menyirami tanaman, sedangkan bulan Ramadlan adalah bulan memetik/memanen".

Setelah bulan Rejeb yaitu ketika memasuki bulan Ruwah akan ada syair yang banyak dilagukan oleh masyarakat yaitu : 

“Iki sasi Ruwah Nuli sasi Poso, Kewajiban kito kudu poso, Yen wis rampung poso sembahyang riyoyo podo suko-suko kito sadoyo.”

Selain syair jawa di atas ada juga ada doa yang familiar di telinga kita ketika datangnya bulan Rajab di sebagian masyarakat, seperti doa di bawah ini :

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

"Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikan kami kepada Ramadlon".

Demikian syair dan doa yang dibawakan oleh masyarakat di kampung-kampung dan desa-desa ketika memasuki bulan Rajab. Mereka semua bergembira menyambutnya karena setelah Rejeb (Rajab) kemudian Ruwah (Sya'ban)  adalah  Poso (Ramadlon), bulan yang sangat ditunggu dan dinantikan oleh siapa saja termasuk kita.

Bulan Rajab termasuk salah satu dari bulan-bulan haran yang Allah SWT. sebutkan dalam Al Quran Surat Taubah ayat 36 :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.(QS. At-Taubah: 36)

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersada :

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

"Sesungguhnya zaman telah beredar sebagaimana yang ditentukan semenjak Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun terdapat dua belas bulan diantaranya empat bulan haram; tiga bulan diantaranya berurutan, (keempat bulan haram itu adalah) Dzulqa’dah, Dzulhijjah Muharram dan Rajab bulan Mudhar yang berada diantara Jumada (Akhirah) dan Sya’ban.(HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi satu tahun dalam Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan berdasarkan perputaran matahari, empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.

Dinamakan bulan haram karena, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan, diharamkan perang [kecuali diserang] di dalamnya, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram, larangan menganiaya diri berbuat dholim, lebih ditekankan dari pada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amal sholeh dan ketaatan. Sehingga, "dosa yang dikerjakan di dalamnya jauh lebih besar (dari bulan-bulan lainnya), juga amal shaleh dan pahala (di bulan tersebut) juga lebih besar."

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”

Juga pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”

Terkait dengan "Bulan Rajab adalah bulan menanam, Sya'ban bulan menyirami tanaman, sedangkan bulan Ramadlan adalah bulan memetik/memanen." bahwa memang donyo iku adalah sawah ladangnya akhirat, kudu ditanduri winih-winih kesaenan, marilah kita tanami benih-benih kebaikan, Sopo gawe ngamal becik senajan namung sethithik bakal ngrasakke unduh-unduhane, demikian pula sebaliknya. Insya Allah ngunduh apapun yang kita lakukan, baik ataupun buruk, tetep ngunduh. Kalau baik akan ngunduh kebaikan, kalau buruk juga akan ngunduh keburukan. Marilah kita jaga dan pelihara amal-amal kita, karena "Ad-dunya mazra-atul akhirah".

Sebagaimana Firman Allah SWT. dalam QS. Az-Zazalah ayat 7 dan 8 :


"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya dia akan melihat [balasan]nya."
"Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat [balasan]nya". 

Di bulan Rajab ini kita menanam, kita semai benih kebaikan, kemudian kita siram dan pelihara sampai bulan Sya'ban, Insya Allah besuk memetik/memanen di bulan Romadlon. Bulan yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang amal sunnah derajatnya sama dengan awal wajib, dan kelebihan -kelebihan lainnya yang Allah tetapkan pada bulan Romadlon dengan Lailatul Qadar.



"Wite Iman, Pange Sholat, Godonge Sholawat, Kembange Dzikir, Wohe Ngamal Kang Sholeh." Insya Allah, Aamiin.

Syair dan doa di atas sangat baik, dan jadilah orang yang bijaksana mensikapi keadaan zaman setiap hari, bulan, dan tahun. Siapa yang berdoa kepada Allah SWT. akan dikabulkan doanya, sebagaimana firman-Nya dalam Al Qran Surat Al Mukmin [Ghoofir] ayat 60 : 

"Ud 'uunii Astajib Lakum", 

"Berdoalah kalian kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan bagi kalian."

Maka marilah agar kita diberkahi pada bulan Rajab dan Sya'ban serta disampaikan kepada Ramadhan, dan juga pada bulan-bulan yang lain di luar bulan haram, Ayo selalu memohon Ridlo dan selalu berdoa, memohon kepada-Nya : dengan menyempatkan di setiap kesempatan nyuwun rohmat [kawelasanipun] Gusti Allah, yang dengan kawelasanipun Gusti Allah meniko saget andadosaken sababiyahipun mlebet suwarganipun Gusti Allah. Aamiin.

"Ya Allah Ampunilah aku, kedua orangtuaku, saudara-saudaraku, anak-anakku, keluargaku, dan orang-orang yang dalam tanggunganku."

"Ya Allah jadikanlah aku, kedua orangtuaku, saudara-saudaraku, anak-anakku, keluargaku dan orang-orang yang dalam tanggunganku mulai hari ini suatu kebaikan, di tengah-tengahnya kebahagiaan, dan pada akhirnya keberhasilan dan keselamatan."

Allahumma Baariklanaa Fii Rajaba wa Sa'baana wa Ballighnaa Ramadlona (Ya Allah berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya'ban serta sampaikan kami pada bulan Ramadlon.

Sumber : Pengajian Abah Hana di Masjid Agung Condronegaran Gedongkiwo Yogyakarta [Kamis Pahing malam Jum'at Pon, 23 April 2015].

Jumat, 17 April 2015

Ilmu Hanya Dapat Diperoleh Dengan Belajar

"Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar." (HR. Bukhari)

Dari hadist di atas teringat apa yang disampaikan oleh Abah Hana bahwa tidak semua hal bisa diajarkan tetapi semua hal bisa dipelajari. Hal ini sangat terngiang dalam benak saya, bahwa kemudian ada teman yang merasa berat dan tidak kuat dalam belajar dan ngaji di sekolah sekaligus di pesantren. "ternyata butuh perjuangan untuk mengaji"kata teman tersebut dalam statusnya di facebook, yang kemudian teman tersebut pilih "boyong" alias pulang kampung.

Butuh Perjuangan Untuk Mengaji ?

Ya, betul ! memang demikian. Coba perhatikan [jangan dibayangkan, he he he] seorang santri jelas sekali perbedaannya tidak bisa sebagaimana kalau di rumah, berbeda dengan remaja seusia dan sebaya yang bisa dekat dengan orangtua, saudara, keluarga, dan juga dengan teman lainnya, semua tinggal bilang dan minta ke orangtua : minta uang, minta ini, minta itu, jajan, bermain, liburan, jalan-jalan, dan mengisi waktu luang dengan main game, PS, nonton TV, atau sekedar tiduran bermalas-malasan,  seperti kehidupan remaja secara normal di masyarakat. semua terbatasi oleh aktifitas, kegiatan sekolah dan pesantren, belum lagi aturan-aturan yang sangat ketat sehingga kadang mendapat takzir [sanksi] karena sering menggunakan kesempatan sekedar jalan-jalan ke super market, dll. tanpa izin.

Semua butuh perjuangan, kemauan dan kesungguhan, kecerdasan dan kesabaran, belum lagi biaya yang kadang orangtua dan keluarga menjadi "biayaan" karena masalah biaya, juga tentunya perjuangan masa belajar/studi yang tidak sebentar, tidak bisa disingkat, butuh waktu yang lama, contoh saja sekolah tingkat SD butuh waktu 6 tahun, SMP, SMA masing-masing butuh waktu 3 tahun. Perjuangan tersebut akan berhasil dengan bimbingan guru/ustadz dan doa orangtua di rumah untuk mendapatkan ilmu di sekolah dan pesantren, semua harus dipelajari walaupun tidak diajarkan. Belajar mandiri dan terpadu salah satu kunci sukses di sekolah dan pesantren,

Insya Allah dengan ilmu akan dapat dua hal yaitu sukses dunia dan akherat. Bagaimana mendapatkan ilmu sehingga "Kebahagiaan Dinia dan Akherat" diperoleh ? Jawabnya jelas dan tegas : "Belajar". seperti hadis tersebut di atas Ilmu hanya diperoleh dengan belajar.

Rasulullah SAW. bersabda :

مَنْ أَرَا دَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَالْاآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

Artinya : ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)

Bagaiman supaya kita termasuk orang yang diinginkan dan dikehendaki oleh Allah menjadi baik, sehingga akan diberi pendalaman, keluasan, dan kepahaman akan ilmu ?

Kita harus belajar !

Rabu, 15 April 2015

Sayyid Abbas bin Alawi Al-Maliki Berpulang

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiiun.
Telah berpulang, Sayyid Abbas bin Alawi Al-Maliki, 
Pada Selasa, 14 April 2015 dini hari ini 03.00 (waktu Makkah).

Kamal Muhlis, Sekretaris Hai’ah Ash-Shofwah menyatakan, “Kami menerima kabar itu ba’da Subuh dari alumni. Terus kita konfirmasi langsung ke Makkah, Syeikh Abbas pada Senin malam sempat dirujuk ke rumah sakit." Selanjutnya, “Beliau dimakamkan hari ini di Ma’la, setelah dishalatkan di Masjidil Haram”.
Kabar ini merebak secara cepat melalu jejaring sosial dan grup WhatsApps melalui murid-murid dan para santri yang pernah bermukim di Makkah.
Hai’ah Ash Shofwah adalah perkumpulan murid-murid Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani yang didirikan 5 Maret 2003 dan kini sudah memiliki 22 niqobah(kantor cabang) dengan jumlah anggota  tersebar di seluruh Indonesia.
Syeikh Sayyid Abbas bin Sayyid Alawi Al-Maliki adalah saudara kandung Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, seorang ulama dan muhadits yang memiliki banyak murid di Indonesia.
Lahir di kota suci Makkah Al-Mukarromah pada tahun 1368 H, Syeikh Abbas bernama lengkap Syeikh Sayyid Abbas bin Sayyid Alawi bin Sayyid Abbas bin Sayyid Abdul Aziz al-Maliki al-Idris al-Hasani al-Makki.
Terlahir dan dibesarkan oleh seorang ayah yang alim pemimpin Ahli Bait di Kota Makkah, pembesar Bait Alawi yang disegani oleh pemerintah dan semua orang, pengajar di Masjidil Haram dan ulama besar yang dikagumi oleh masyarakat Makkah ketika itu.
Sayyid Abbas dikenal memiliki sifat tawadhu’, rendah hati, mudah senyum dan suka membantu orang yang kesulitan.

Ulama yang digelari sebagai Bulbul Makkah ini dikenal memiliki suara yang bagus dan pandai bersyair. Semasa hidup membangun pusat pendidikkan di Makkah al-Mukarramah, serta memiliki majelis Dalailul Khairat dan Majelis Burdah pelajarnya terdiri dari pelajar asrama yang datang dari Indonesia, juga pelajar luar asrama yang tinggal di Kota Makkah. 
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.


Minggu, 12 April 2015

Manasik

QS. Al Baqarah ayat 124 - 128 :

Ayat 125 :


Ayat 128 :

Rasulullah SAW bersabda :

أَنَّ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَـلَـيْـهِ وَسَـلَّمَ قَـالَ : اَلـْعُـمْرَةُ إِلَـى الْـعُـمْـرَةِ كَـفَّـارَةٌ لِـمَـا بَـيْـنَـهُمَـا, وَلْـحَجُّ الْـمَـبـْرُوْرُ لَـيـْسَ لَـهُ جَـزَاءٌ اِلاَّ الْـجَـنَّـةَ
Artinya : “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : Pelaksanaan umrah hingga umrah yang akan datang adalah penebusan dosa yang ada antara keduanya, dan haji mabrur itu tidak ada balasannya melainkan surga” (HR. Muttafaq ‘alaih dari Abi Hurairah)


Minggu, 05 April 2015

Kelompok Manusia Menurut Imam Ghazali

Imam Ghazali menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi 4 (empat) macam kelompok, yaitu :
1. Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang tahu, dan dia tahu kalau dirinya tahu.) = golongan yang terbaik, kategori wong alim
2. Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang tahu, tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu.) = Koyo wong turu kudu digugah, dia potensi tapi tidak tahu punya potensi.
3. Rojulun Laa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang tidak tahu, tapi dia tahu (sadar diri) kalau dia tidak tahu.) = wong sing bodo, isih luwih apik mergo masih bisa diluruskan.
4. Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang tidak tahu, dan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu.) = wong sing ora sadar dirinya tidak tahu, disadarkan paling susah

Rabu, 01 April 2015

Doa sebelum dan setelah membaca Al-Quran, Insya Allah mujarab untuk menghafal


Kalaamun qadiimun laa yumallu samaa'uhu
Tanazzaha `an qaulii wa fi`lii wa  niyyatii

Bihi asytafii min kulli daa’in wa nuuruhu
Daliilun liqalbii inda jahlii  wa hairatii

Fayaa  rabbi matti’ni bisirri huruufihi
Wa nawwir bihi qalbii wa sam’ii wa muqlatii 

Wa hablii bihi fathan wa ‘ilman wa hikmatan 
Wa ‘aanis bihi  ya rabbi fil-qabri  wahsyatii

Wa shalli  wa sallim kulla yaumin  wa lailatin
‘Ala man bihir-rahmaanu yaqbalu da'watii 

Wa alin wa ashhaabin kiraamin aimmatin
Bihim yaghfirul-ghaffaaru  dzanbii  wa zallatii

Artinya:

"Kalam yang qadim (Al-Quran), tidak bosan orang mendengarnya. 
Bersih dari perkataanku, perbuatanku, dan niatku. 

Dengan keberkahannya aku mohon kesembuhan kepada Allah dari segala penyakit. 
Cahayanya petunjuk bagiku ketika tidak mengerti dan dalam keadaan bingung. 

Ya Tuhan, senangkanlah aku dengan rahasia huruf-hurufnya. 
Terangilah hatiku, pendengaranku, dan mataku dengannya. 

Dan berikanlah aku keterbukaan, ilmu, dan hikmah. 
Tuhanku, hiburlah keterasinganku di dalam kubur dengannya. 

Dan limpahkanlah shalawat dan salam setiap siang dan malam 
Kepada orang yang dengannya Ar-Rahman menerima doaku. 

Juga kepada keluarga dan para sahabatnya, imam-imam yang mulia. 
Dengan berkah mereka, Tuhan, Yang Maha Pengampun, menghapuskan dosa dan kesalahanku."


"MENGABDI UNTUK BERBAKTI"

___________________________

Powered by: Blogger