Kamis, 05 April 2012

TANGISAN SEBATANG KAYU

Hadits tentang tangisan sebatang kayu kurma termasuk sangat masyhur dan tersebar luas. Riwayatnya mutawatir yang dikeluarkan oleh para ahli hadits dan diriwayatkan oleh sebagian para shahabat, diantaranya Ubai bin Ka’ab, Jabir bin ‘Abdullah, Anas bin Malik, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin Abbas, Sahl bin Sa’ad, Abu Said al-Khudri, Buraidah, Ummu Salamah, dan Muthalib bin Abi Wadda’ah; semuanya menceritakan riwayat yang semakna dengan hadits ini.

Diantara hadits yang menceritakan tentang tangisan sebatang kayu kurma itu ialah saat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di samping kayu itu pada hari jum’at. Kisah ini sangat masyhur di kalangan para shahabat :

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu menceritakan : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkhutbah di samping sebatang kayu. Pada saat beliau dibuatkan mimbar, beliaupun menggunakan mimbar, maka menangislah kayu itu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun mendatangi dan mengusap kayu itu dengan tangannya kepada kayu itu”. (HR.Bukhari, no. 3583. Lihat kitab Manaqib, bab : ‘Alamatun-Nubuwwah Fil Islam).

Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan kepada kami seraya berkata : “Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari jum’at berdiri di samping sebatang kayu atau kayu kurma, lalu seorang wanita dari kalangan Anshar berkata : ‘Wahai Rasulullah, maukah engkau kami buatkan sebuah mimbar?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : ‘(Jika kalian mau buatlah)’, lalu mereka membuatkan mimbarnya”.

Pada hari jum’at tiba, Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju mimbar, maka menjeritlah kayu kurma seperti tangisan bayi. Lalu Nabi pun turun kemudian mendekap kayu itu yang merintih seperti seorang anak kecil.

Jabir Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Kayu kurma itu menangis karena kebiasaannya dahulu mendengar dzikir yang diucapkan di sisinya”. (HR. Bukhari, no.3584, bab : ‘Alamatun Nubuwwah
Fil-Islam’).

Dari Anas bin Malik Ra., ia berkata: “Nabi SAW pernah berkhutbah di samping sebatang kayu. Pada saat itu, beliau SAW dibuatkan sebuah mimbar. Beliau SAW pergi ke mimbar itu, lantas kayu itu menjerit, (maka) Nabi SAW pun mendatanginya dan mendekapnya. Kayu itu pun diam. Beliau SAW bersabda:”Seandainya aku tidak mendekapnya, ia akan tetap menjerit sampai hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh al-Bali dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1162)

Ibnu Hajar Rahimahullah berkata: Sesungguhnya tangisan sebatang kayu dan terbelahnya bulan dinukil dari keduanya dengan banyak nukilan, yang memberikan faidah secara pasti bagi para imam ahli hadits yang meneliti jalan-jalan tersebut”. (Fathul Bari, 6/685).

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya perkataan (imam Syafi’I Rahimahullah) bahwa ini lebih besar darinya, karena sebatang kayu bukanlah termasuk makhluk hidup (seperti manusia). Dan bersamaan itu pula terdapat padanya perasaan dan cinta tatkala beliau berpindah darinya kepada mimbar, lalu menangis seperti suara tangisan unta hamil, sehingga Rasulullah SAW turun dari mimbar lalu memeluknya”. (Lihat Bidayah wa Nihayah, 6/276)

Dahulu, tatkala al-Hasan menceritakan hadits ini, ia menangis, dan berkata: “Wahai ma’asyiral muslimin, sebatang kayu menangis karena rindu kepada Rasulullah SAW, maka kalian lebih pantas untuk merindukan perjumpaan dengannya”..

Sumber : Asy-Sifa bi Ta’rifi Huquqqul Musthafa, karya Qadhi Iyadh, dan kitab-kitab lainnya. (Majalah As-Sunnah Th. XII 1429 H)


Baca Juga :



0 komentar:

Posting Komentar

"MENGABDI UNTUK BERBAKTI"

___________________________

Powered by: Blogger