Hadits tentang tangisan sebatang kayu kurma termasuk sangat masyhur dan
tersebar luas. Riwayatnya mutawatir yang dikeluarkan oleh para ahli hadits dan
diriwayatkan oleh sebagian para shahabat, diantaranya Ubai bin Ka’ab, Jabir bin
‘Abdullah, Anas bin Malik, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin Abbas, Sahl bin
Sa’ad, Abu Said al-Khudri, Buraidah, Ummu Salamah, dan Muthalib bin Abi
Wadda’ah; semuanya menceritakan riwayat yang semakna dengan hadits ini.
Diantara hadits yang menceritakan tentang tangisan sebatang kayu kurma itu
ialah saat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di samping kayu itu
pada hari jum’at. Kisah ini sangat masyhur di kalangan para shahabat :
Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu menceritakan : “Nabi
Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkhutbah di samping sebatang kayu. Pada
saat beliau dibuatkan mimbar, beliaupun menggunakan mimbar, maka menangislah
kayu itu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun mendatangi dan mengusap kayu
itu dengan tangannya kepada kayu itu”. (HR.Bukhari, no. 3583. Lihat kitab
Manaqib, bab : ‘Alamatun-Nubuwwah Fil Islam).
Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan kepada kami seraya berkata
: “Dahulu Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam pada hari jum’at berdiri di samping sebatang kayu atau kayu
kurma, lalu seorang wanita dari kalangan Anshar berkata : ‘Wahai Rasulullah,
maukah engkau kami buatkan sebuah mimbar?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam
menjawab : ‘(Jika kalian mau buatlah)’, lalu mereka membuatkan mimbarnya”.
Pada hari jum’at tiba, Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju
mimbar, maka menjeritlah kayu kurma seperti tangisan bayi. Lalu Nabi pun turun
kemudian mendekap kayu itu yang merintih seperti seorang anak kecil.
Jabir Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Kayu
kurma itu menangis karena kebiasaannya dahulu mendengar dzikir yang diucapkan
di sisinya”. (HR. Bukhari, no.3584, bab : ‘Alamatun Nubuwwah Fil-Islam’).
Dari
Anas bin Malik Ra., ia berkata: “Nabi SAW pernah berkhutbah di samping sebatang
kayu. Pada saat itu, beliau SAW dibuatkan sebuah mimbar. Beliau SAW pergi ke
mimbar itu, lantas kayu itu menjerit, (maka) Nabi SAW pun mendatanginya dan
mendekapnya. Kayu itu pun diam. Beliau SAW bersabda:”Seandainya aku tidak mendekapnya, ia akan tetap menjerit sampai hari
kiamat.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh al-Bali dalam Shahih
Ibnu Majah, no. 1162)
Ibnu
Hajar Rahimahullah berkata: Sesungguhnya tangisan sebatang kayu dan terbelahnya
bulan dinukil dari keduanya dengan banyak nukilan, yang memberikan faidah
secara pasti bagi para imam ahli hadits yang meneliti jalan-jalan tersebut”.
(Fathul Bari, 6/685).
Ibnu
Katsir Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya perkataan (imam Syafi’I
Rahimahullah) bahwa ini lebih besar darinya, karena sebatang kayu bukanlah
termasuk makhluk hidup (seperti manusia). Dan bersamaan itu pula terdapat
padanya perasaan dan cinta tatkala beliau berpindah darinya kepada mimbar, lalu
menangis seperti suara tangisan unta hamil, sehingga Rasulullah SAW turun dari
mimbar lalu memeluknya”. (Lihat Bidayah wa Nihayah, 6/276)
Dahulu,
tatkala al-Hasan menceritakan hadits ini, ia menangis, dan berkata: “Wahai
ma’asyiral muslimin, sebatang kayu menangis karena rindu kepada Rasulullah SAW,
maka kalian lebih pantas untuk merindukan perjumpaan dengannya”..
Sumber
: Asy-Sifa bi Ta’rifi Huquqqul Musthafa, karya Qadhi Iyadh, dan kitab-kitab
lainnya. (Majalah As-Sunnah Th. XII 1429 H)
Baca Juga :
0 komentar:
Posting Komentar