Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Kamis, 08 September 2016

Puasa Tarwiyah

APA HUKUM PUASA TARWIYAH ?

Puasa Tarwiyah masuk keutamaan sembilan hari pertama Dzulhijjah.
Pertanyaan ini sering muncul di tengah-tengah masyarakat. Berpuasa di hari kesembilan Dzulhijjah atau dikenal dengan Hari Arafah banyak orang mengetahui hukumnya, yakni sunah. Tetapi, tak sedikit yang masih gamang soal hukum berpuasa pada hari kedelapan Dzulhijjah. Apa hukumnya?

Sebuah artikel sederhana karya Dr Abdurrahman bin Shalih bin Muhammad al-Ghafili yang berjudul Hukm Shiyam Asyr Dzilhijjah, berusaha memaparkan hukum puasa yang sering disebut denganHari Tarwiyah tersebut. Ia menjelaskan topik ini merupakan bahasan klasik yang telah banyak dikupas dalam deretan kitab hadis ataupun ulama-ulama terdahulu. Para ulama sepakat, Puasa Tarwiyah hukumnya sunah. Bahkan, sangat dianjurkan berpuasa sejak hari pertama Dzulhijjah hingga Hari Arafah, tepatnya 9 Dzulhijjah. 

Dalam kitab Minah al-Jalil Syarh ‘Ala Mukhtashar al-Khalil yang bermazhab Maliki  disebutkan hukum berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah hukumnya sunah, istilah puasa tersebut dikenal dengan sebutan asyr Dzilhijjah.

Penegasan yang sama disampaikan dalam kedua kitab bercorak Mazhab Syafi’i, yakni al-Majmu’ Syarah Muhadzab dan Mughni al-Muhtaj Ila Ma’rifat Ma’ani al-Fadz al-Minhaj.
Hukum berpuasa Tarwiyah dan Arafah serta puasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah ialah sunah. Anjuran berpuasa itu tidak terbatas kepada mereka yang tidak berhaji, tetapi juga berlaku pula bagi jamaah haji.

Mewakili Mazhab Hanbali, ada kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah. Kitab tersebut menegaskan, kesembilan hari pertama Dzulhijjah (asyr Dzilhijjah) merupakan hari yang utama dan dimuliakan.

Pahala ibadah di sepanjang hari tersebut ditingkatkan karena itu hendaknya menambah frekuensi dan intensitas beribadah pada hari-hari tersebut. Mazhab Zhahiri juga berpandangan sama, ini seperti ditegaskan oleh Ibnu Hazm dalam kitab al-Muhalla.

Ibnu Hajar al-Asqalani menganalisis keutamaan rentetan hari di separuh pertama Dzulhijjah didasari satu fakta yang sangat menarik, yaitu sejumlah ibadah yang pokok berkumpul menjadi satu pada hari tersebut, seperti shalat, sedekah, dan manasik haji. “Keistimewaan itu tak ada di hari lain,” kata tokoh bermazhab Syafi’i tersebut. 

Beberapa hadis yang dijadikan sebagai dasar ketentuan hukum berpuasa pada sembilan hari pertama, termasuk Hari Tarwiyah danArafah, antara lain, hadis riwayat Ibnu Abbas.
Hadis yang dinukilkan oleh Imam Bukhari dan Ahmad mengisahkan, Rasulullah SAW pernah bersabda, tidaklah terdapat amal ibadah yang lebih pantas dilakukan, kecuali di kesembilan hari pertama Dzulhijjah.

Riwayat ini diperkuat oleh nukilah Hunaidah bin Khalid dari istri-istri Rasul. Dikisahkan, Nabi Muhammad SAW berpuasa pada sembilan Dzulhijjah.
Imam Nawawi dalam kitab Syarah an-Nawawi ala Muslim menyatakan berpuasa selama hari itu hukumnya tidaklah makruh, bahkan sangat dianjurkan dan disunahkan.

Apalagi, hari kesembilan Dzulhijjah atau puasa Hari Arafah. Hadis yang dinukilkan oleh Bukhari dan Ahmad dari Ibnu Abbas di atas cukup menjadi bukti kuat terkait sunahnya berpuasa di sepanjang hari tersebut, termasuk Tarwiyah.

Sedangkan hadis riwayat Muslim dari Aisyah menyatakan, Rasul tidak pernah berpuasa pada hari-hari tersebut, bisa jadi ada banyak kemungkinan sebab.
Entah sakit atau sedang bepergian. Mungkin pula saat Rasul berpuasa, Aisyah sedang tidak berada di sisinya. Sehingga, kedua riwayat itu tidak saling kontradiktif.
Menurut Ensiklopedi Fikih Kuwait (al-Mausu’ah al-Kuwaitiyah), para ulama sepakat hukum berpuasa delapan hari sebelum Hari Arafah hukumnya sunah. Ini merujuk hadis riwayat Ibnu Abbas di atas. 
Menurut Mazhab Hanbali, sebelum puasa Arafah, puncaknya adalah berpuasa Tarwiyah. Mazhab Maliki bahkan menegaskan puasaTarwiyah pahalanya bisa menutup dosa-dosa kecil yang dilakukan selama setahun.
Sunah berpuasa ini, seperti pandangan Mazhab Maliki dan Syafi’i, berlaku pula untuk jamaah haji. Sedangkan Mazhab Maliki, memakruhkan puasa pada hari tersebut bila hal itu dinilai akan memberatkan pelaksanaan manasik.
Komite Tetap Kajian dan Fatwa Arab Saudi menyatakan, hukum berpuasa Arafah adalah sunah bagi yang tidak berhaji. Jika hendak berpuasa sehari sebelumnya atau Hari Tarwiyah, silakan.
Bila ingin berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah berturut-turut juga sangat baik. Ini kembali pada keutamaan hari tersebut, seperti penegasan riwayat Ibnu Abbas tadi. 

Sabtu, 03 September 2016

TATA CARA SHALAT JAMA’ DAN QASHAR

Dalam syariat islam, orang yang sedang dalam perjalanan jauh diperbolehkan untuk menjamak (mengumpulkan),  menqashar (meringkas), atau menjamak dan juga mengqashar shalat wajib yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat dengan syara-syarat yang ditentukan oleh syara';
                                                 
Shalat Qashar:
1. Jarak perjalanan sekurang-kurangnya sejauh dua hari perjalanan kaki atau dua marhalah atau sama dengan 16 farsah. Para ulama berbeda pendapat mengenai ukuran ini apabila diganti menggunakan ukuran Kilo Meter (KM). sebagian mengatakan sama dengan 138 KM. Sedangkan menurut Abdurrahman al-Jazairi mengatakan 81 KM. Ada pula yang berpendapat sama dengan 88,5 KM. Kyai Ma'shum mengatakan sama dengan 94, 5 KM. Menurut Imam al Jurdani dalam Fath al ‘alam sama dengan 89,40 Km. Menurut Majd al Hamawi sama dengan 82,5 Km. Menurut Syaikh Zain bin Smith dalam taqriirotus sadiidah sama dengan + 82 km.
2.    Perjalanan yang dilakukan bukan untuk maksiat
3.  Shalat yang boleh diqashar hanya shalat yang empat rakaat saja dan bukan shalat yang diqadha
4.    Niat shalat mengqashar pada waktu takbiratul ihram
5.    Tidak makmum kepada orang yang bukan musafir.

Shalat Jama'
Shalat Jama' ialah shalat yang dikumpulkan. misalnya dzuhur dengan ashar. maghrib dengan isya. sedankan shalat subuh tidak bis dijama'. 

Shalat jama' ada dua macam, yaitu:
1.    Jama' takdim. maksudnya shalat jama' yang didahulukan pada waktu shalat pertama. misalnya jama' antara shalat dzuhur dan ashar maka melakukan shalat jamaknya pada waktu dzuhur. shalat maghrib dengan isya' maka waktu melaksanakan shalat jamaknya di waktu maghrib.
2.    Jama' ta'khir. Jama' yang dilakukan pada waktu shalat kedua. misalnya menjama' antara dzuhur dengan ashar dilakukan di waktu ashar. menjama' shalat maghrib dengan isya' dilakukan di waktu isya'.

Syarat Jama' Takdim:
1. Dikerjakan dengan tertib. Yang dilaksanakan adalah shalat pertama terlebih dahulu baru kemudian shalat kedua. misalnya jama' dzuhur dan ashar maka yang dikerjakan shalat dzuhur dulu kemudian ashar. jangan kebalik
2. Niat jama' takdim dilakukan pada shalat pertama. Misalnya apabila mau menjama' dzuhur dengan ashar dengan jama' takdim maka diniatkan pada masuk shalat dzuhur.
3. Cara pelaksanaan harus berurutan. Maksudnya tidak boleh disela dengan shalat sunah atau perbuatan lain yang sekiranya menghabiskan waktu yang cukup untuk shalat dua rakaat. misalnya shalat jama' dzuhur dengan ashar maka setelah shalat dzuhur langsung mengerjakan shalat ashar, jangan diselingi dengan perbuatan lainnya

Syarat Jama' Ta'khir:
1.    Niat jama' ta'khir dilakukan pada shalat yang pertama
2.  Masih dalam perjalanan tempat datangnya waktu yang kedua. Karena itu tidak sah apabila mau menjama' dzuhur dengan ashar dengan jama' ta'khir namun sudah masuk waktu shalat maghrib.

Shalat Jama' Qashar
Selain bisa menjama' atau mengqashar, seorang musafir yang melakukan perjalanan jauh juga diperbolehkan melakukan shalat jama' qashar sekaligus. Adapun caranya sebagai berikut:
1. Shalat jama' qashar dzuhur dan ashar. berarti menggabungkan shalat dzuhur dan ashar serta meringkas keduanya. cara pelaksanaan yaitu dengan melaksanakan shalat dzuhur 2 rakaat dan ashar 2 rakaat.

Niatnya shalat dzuhur yang dijama' qashar adalah sebagai berikut:
اُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا اِلَيْهِ العَصْرُ اَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
     Ushalli fardhadh dzuhri rak'ataini qashran majmuu'an ilaihil 'ashru adaa'an lillaahi ta'aalaa.

Niat shalat ashar yang dijama' qashar adalah sebagai berikut:
اُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا اِلَيْ الظُهْرِ اَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
    Ushalli fardhal 'ashri rak'ataini qashran majmuu'an ilaihil iladz-dzuhri adaa'an lillaahi ta'aalaa.

2.  Shalat jama' qashar maghrib dan isya'. berarti menggabungkan shalat maghrib dan ashar dalam satu waktu (waktu maghrib atau waktu isya') serta meringkas shalat isya' dan tidak meringkas shalat maghrib (sebab maghrib hanya 3 rakaat dan tidak bisa di qashar, bisanya di jama). cara pelaksanaan yaitu dengan melaksanakan shalat maghrib 3 rakaat dan shalat isya' 2 rakaat. Adapun niatnya sebagai berikut:

     Niat shalat maghrib jama' dengan isya':
اُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا اِلَيْهِ العِشَاءُ اَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
    Ushalli fardhal maghribi tsalaatsa raka'aatin majmuu'an ilaihil 'isyaa' adaa'an lillaahi ta'aalaa.

Niat shalat isya' jama' qashar:
اُصَلِّى فَرْضَ العِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا اِلَيْ المَغْرِبِ اَدَاءً للهِ تَعَالَى
     Ushalli fardhal 'isyaa'i rak'ataini qashran majmuu'an ilal maghribi adaa'an lillaahi ta'aalaa. 
    
     NB: Antara niat jama' takdim qashar dan jama' ta'khir qashar maka niatnya sama.


Senin, 29 Agustus 2016

STQ 2016 Kota Yogyakarta

Santri Ponpes Al-Islam Yogyakarta berhasil meraih prestasi juara cabang MHQ 5 Juz dan Tilawah putra-putri, dan MHQ 20 Juz pada STQ (Seleksi Tilawatil Quran) Kota Yogyakarta yang dilaksanakan di kantor Kemenag Kota Yogyakarta pada Ahad, 28 Agustus 2016.

Dalam STQ 2016 Tingkat Kota Yogyakarta ini Ponpes Al-Islam mengikuti cabang MHQ 1 Juz dan Tilawah putra/putri, MHQ 5 Juz dan Tilawah putra/putri, MHQ 10 Juz putra, dan MHQ 20 Juz putri.

Santri Ponpes Al-Islam yang meraih prestasi juara tersebut adalah :
  1. Sayyidatur Rofi'ah (Juara 1 MHQ 5 Juz dan Tilawah Putri)
  2. Arsya (Juara 2 MHQ 5 Juz dan Tilawah Putri)
  3. Muhammad Athoillah (Juara 2 MHQ 5 Juz dan Tilawah Putra)
  4. Nurhasanah (Juara 2 MHQ 20 Juz Putri)

Masing-masing Juara 1 dan 2 ini akan mendapat pembinaan untuk mewakili Kota Yogyakarta pada STQ 2016 Tingkat DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta).

Selamat dan Tingkatkan !

Senin, 06 Juni 2016

Pospeda 2016 Kota Yogyakarta

Marfuatin Muthoharoh santri Al-Islam Yogyakarta Juara 2 Stand Up Comedy Pospeda 2016 Kota Yogyakarta yang dilaksanakan di Kantor Kemenag Kota Yogyakarta pada 4 - 5 Juni 2016. Selanjutnya Marfuatin akan mewakili Kota Yogyakarta pada Pospeda Tingkat DIY pada tanggal 26 - 28 Juli 2016.

Selamat dan tetap semangat.

Senin, 02 Mei 2016

Santri Al Islam Juara Porsadin 2016 Kota Yogyakarta

Santri Al Islam meraih Juara pada Porsadin (Pekan Olahraga dan Seni Santri Madrasah Diniyah Talmiliyah) tingkat Kota Yogyakarta yang dilaksanakan pada Ahad, 1 Mei 2016 di Kantor Kementrian Agama Kota Yogyakarta.

Rahma Nurul Fauziah  meraih  Juara 1 cabang Tahfidz Putri, sedangkan Nadia meraih juara 2 Pidato Bahasa Indonesia putri.

Selanjutnya Rahma akan mewakili Kota Yogyakarta pada Porsadin 2016 Tingkat DIY bersama juara 1 kabupaten/kota di DIY.


Selamat dan Sukses.

Jumat, 29 April 2016

Belajar dari Cara Nabi Mengatasi Kesulitan

Khotbah I


الحمد لله لَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى لِيُرِيَهُ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الكُبْرَى، والصلاة والسلام على سيدنا ومولانا محمد المُؤَيِّدِ بِالمُعْجِزَاتِ التي لَاتَنْقَضِي عَجَائِبُها ولا تستقصى، فضَّلهُ الله تعالى على سائر الورى، بحسن أخْلاقِه لَاتَشُك فيها ولا تترى وعلى آله وأصحابه ومن اتبعه ماتعاقب الاوان وجرى . أما بعد:
أيها الحاضرون رحمكم الله : أوصينى نفسي وإياكم بتقوى الله، فقد فاز المتقون. قال الله تعالى في كتابه الكريم أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم. ياأيها الذين آمنوا اتّقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.

Kaum Muslimin sidang Jum’at
 rahimakumullah,

Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat-Nya yang dilimpahkan kepada kita semua, sehingga kita dapat beribadah mengabdi kepada-Nya setiap waktu demi menggapai ridla-Nya.

Dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita terus menerus berusaha meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT; takwa dalam arti yang sebenar-benarnya. Semoga Allah SWT menempatkan kita semua pada derajat yang Dia ridhai, di dunia dan di akhirat. Amin ya rabbal 'alamin.

Kaum Muslimin sidang Jum’at
 rahimakumullah,

Dalam hidup, kelahiran dan kematian adalah sunnatullah. Sebuah proses alam yang terjadi secara berulang-ulang. Karena sunnatullah, tidak lantas kita sebagai manusia tidak berhak untuk berbahagia dan bersedih. Lumrahnya manusia, menghadapi kelahiran akan merasa bahagia. Demikian pula dengan kematian, wajarnya manusia akan merasa kehilangan dan sedih.

Panutan kita, Baginda nabi Muhammad SAW adalah manusia, sebagaimana kita semua, mempunyai rasa takut, sedih, serta kehilangan.

Allah SWT sendiri telah menjelaskan dalam QS Al Kahfi ayat 110

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (الكهف : 110)

Artinya :
Katakanlah “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa’. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Dan disebutkan pula dalam QS Fushshilat ayat 6:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِّلْمُشْرِكِينَ (فصلت: 6)

Artinya :
Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.

Oleh sebab itu, dalam aqidah As’ariyah Maturidiyah dikenal sifat jaiz nabi dan rasul :
 

أعراض البشرية

Nabi dan rasul memiliki sifat sebagaimana manusia sebagaimana umumnya.

Kaum Muslimin sidang Jum’at
 rahimakumullah,

Pada tahun 10 kenabian, Rasulullah Muhammad SAW mengalami sebuah keadaan yang sangat berat. Hal ini disebabkan oleh wafatnya dua orang yang sangat dicintai yaitu Abu Thalib (paman belaiu) dan Khadijah (istri beliau). Sehingga dalam sejarah dikenal dengan sebutan ‘amul huzni
 (tahun kesedihan).

Hadirin Jamaah Jum’ah
 rahimakumullah,

Penderitaan beliau tidak berhenti hanya di situ, setelah ditinggalkan dua orang tercinta, beliau hijrah ke Thaif. Yang salah satu tujuannya adalah menghilangkan kesedihan. Tapi malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Selama 10 hari di Thaif tak ada satu pun orang yang berkenan masuk Islam. Bahkan Nabi diusir dan dilempari batu oleh penduduk Thaif.

Hadirin Jamaah Jum’ah
 rahimakumullah,

Saat Nabi Muhammad berada dalam titik nadir semangat perjuangan menegakkan Islam. Allah membuka jalan, memberikan dorongan dan spirit nabi Muhammad. Allah mengutus malaikat Jibril, untuk mengajak Nabi Muhammad recharging (mengisi ulang) semangat dengan “jalan-jalan” menelusuri jejak perjuangan nabi terdahulu, menelusuri taman-taman surga, dan jurang-jurang neraka. Diperlihatkan kepada Nabi Muhammad akibat dari kemalasan, keserakahan, dan ketamakan manusia. Diperlihatkan kepada Nabi Muhammad buah dari berbagi, mawas diri, dan rendah hati. Peristiwa ini kemudian hari dikenang dan diperingati setiap tahunnya oleh umat Islam sebagai isra’ mi’raj.

Hadirin Jamaah Jum’ah
 rahimakumullah,

Bagaimana dengan kita? Sebagai manusia, mungkin kemarin, saat ini, atau bahkan besok mengalami kesedihan, yang menguras air mata, dan menghabiskan energi. Belajar dari Habibuna Muhammad, saat kita mengalami keadaan terpuruk, sedih, maka keluarlah, pergilah, dan lihatlah! Temuilah orang-orang shalih, saksikanlah keindahan dan keberhasilan orang lain melewati tahapan kehidupannya. Lihatlah kegagalan-kegagalan orang yang terpuruk, terjerumus dalam keputusasaan.

Hadirin Jamaah Jum’ah
 rahimakumullah,

Setelah semuanya kita lakukan, hal yang terakhir adalah shalat, menghadap sang khaliq (Allah SWT). Serahkan semuanya kembali kepada Allah SWT. Dan tak lupa berdoa sebagaimana doa nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Anas r.a:

عن أنس بن مالك قال : كان النبي صلى الله عليه وسلّم يقول : اللّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُبِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ, والعَجْزِ وَاْلكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالبُخْلِ، وضَلْعِ الدَّينِ, وغَلَبةِ الرِّجَال. 

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat  gelisah (pesimis), sedih, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang, dan keganasan orang lain.

Akhirnya, semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua, dan semoga kita semua yang hadir di sini diberi kekuatan oleh Allah untuk melewati setiap tahapan kehidupan dengan selamat dan berhasil menjadi umat Muhammad SAW yang sukses dunia maupun akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ،

Khotbah II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِ+هِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ؛
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا،اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، و الحمد لله رب العالمين ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ، رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ، رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ،اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ فِيْنَا وَلاَ يَرْحَمُنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ،سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْن وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن،
عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Muh. Afifuddin, Pengurus LP Ma’arif Kabupate Sleman
Sumber : 
http://www.nu.or.id/post/read/67676/belajar-dari-cara-nabi-mengatasi-kesulitan

"MENGABDI UNTUK BERBAKTI"

___________________________

Powered by: Blogger