Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Sabtu, 07 Juni 2014

Ruwahan di Gedongkiwo Nguri-Uri Budaya Jawa

Untuk menghidupkan tali silaturahmi dan persaudaraan antar tetangga, serta mengembalikan proses apeman yang njawani maka di lingkungan kampung Gedongkiwo Yogyakarta dilaksanakan Ruwahan Nguri-uri Budaya Jawa Di bulan Ruwah (Sya'ban) dengan kegiatan upacara dan lomba apeman pada tanggal 7 - 8 Juni 2014 kerja bareng EXPOLINER dan segenap komponen masyarakat Gedongkiwo. Turut berpartisipasi Pondok Pesantren Al Islam Yogyakarta.

Kegiatan diawali dengan lomba kebersihan lingkungan dan lomba membuat apem di setiap RT pada Sabtu, 7 Juni 2014 jam sekitar jam 19.30 WIB untuk membuat adonan apem dan menyiapkan segala yang diperlukan. Pada saat jam 19.30 WIB inilah dilakukan doa keselamatan miwiti ngebluk di pendopo Cokrosenan, setelah itu secara serempak peserta lomba apem mengerjakan ngebluk di wilayah RT masing-masing, sedang Dewan Yuri berkeliling kampung mendatangi tempat peserta berkumpul melakukan penilaian. Kemudian dilanjutkan dengan sarasehan tentang tradisi Sadranan/Ruwahan oleh narasumber yang mumpuni di bidangnya, diselingi musik tradisi terbangan/Hadroh dari Ponpes Al Islam Yogyakarta.


Di sepanjang jalan protokol Gedongkiwo selama dua hari dilaksanakan bazar dan pameran, memamerkan produk lokal baik kuliner, maupun kerajinan. Selanjutnya pada Ahad, 8 Juni 2014 jam 08.00 WIB digelar lomba mewarnai gambar bebas, dan sore jam 15.30 WIB dilaksanakan Kirab berpakaian tradisional dengan membawa ketan, kolak dan apem yang ditata di tambir mengelilingi kampung Gedongkiwo. Iring-iringan kirab dikawal oleh bergodo Daeng, music terbang, Hadroh, dan Drum Band Pondok Pesantren Al Islam Yogyakarta. Malam harinya jam 20.00 WIB digelar Majelis Muhyin Nufuus Sholawat Maulud Al Mahmud di Dalem pendopo Cokrosenan Gedongkiwo, Sekaligus Doa untuk orangtua dan para leluhur. Kemudian pada malam Nisfu Sya'ban insya Allah dilaksanakan Doa dan Dzikir bersama-sama dan Bersama-sama Dzikir di Pondok Pesantren Al Islam Yogyakarta komplek Thoriq Aqdam Avicena.

Juga pada Kamis, 12 Juni 2014 dilaksanakan Mujahadah Asmaul Husna di Masjid Agung Condronegaran Gedongkiwo
Selanjutnya pada 18 Juni 2014 dilaksanakan khataman kitab Aqidatul Awam bagi santri Madrasah Diniyah Al Islam di Pondok Pesantren Al Islam Yogyakarta Komplek Al Hikmah. Sedangkan Ziarah Qubur dilaksanakan pada 15 dan 20 Juni 2014.


Ziyaratul quburi mustahabbatun ‘alal jumlah littazakkuri wal i‘tibar.
Waziyaratu quburis shalihin mustahabbatun liajlit tabarruki ma‘al i‘tibar.

Ziarah kubur adalah sunah untuk mengingatkan manusia pada kematian dan membaca pertanda dihadapan mereka. Sedangkan menziarahi kubur orang sholeh adalah juga sunah untuk membaca pertanda di hadapan mereka dan mengalap berkah Allah. Begitu kata Imam Ghazali dalam Ihya Ulumud Din.

Tradisi budaya Jawa, memuliakan leluhur dengan Sadranan/Ruwahan. Disebut "Ruwahan" lantaran tradisi tersebut memang dilakukan pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa Sultan Agung, atau bulan Sya'ban dalam penanggalan Hijriah, yaitu bulan sebelum memasuki bulan Ramadlon.

Mengabdi Untuk Berbakti


Sebagai anak kampung yang ingin mendarmabaktikan untuk kampung halaman dan para leluhur Gedongkiwo, mengabdi dan berbakti adalah keharusan. Bahwa tradisi Ruwahan adalah  suatu adat kebiasaan yang diturunkan oleh nenek moyang yang masih dijalankan oleh masyarakat sampai sekarang, Juga sesuatu yang dianggap bermakna baik dan atau luhur sampai dengan saat ini. Demikian "Nguri-Uri Budaya Jawa" berupa Sadranan/Ruwahan dilaksanakan dalam rangka mengabdi untuk berbakti.


Tradisi Ruwahan telah ada sebelum Islam masuk ke Indonesia, tepatnya pada masa kerajaan Majapahit dengan istilah Sradha (istilah yang digunakan oleh umat Hindu), untuk sebuah acara pemuliaan roh leluhur yang telah meninggal. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk di Majapahit, diselenggarakan upacara Sradha untuk memuliakan arwah ibundanya, Tribhuwana Tunggadewi.


Dalam Kitab Negara Kertagama dikisahkan pelaksanaan upacara Sradha, oleh raja ketiga Majapahit, Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Dengan tujuan memberi penghormatan kepada arwah Ramanda Diah Sangramawijaya dan ketiga ibu prameswari. Demikianlah maka muncul tradisi dan terkenal dengan istilah Nyadran atau Sadranan di masyarakat Jawa, yang pada hakekatnya tradisi Nyadran atau Ruwahan, tidak lain adalah untuk mengirim doa kepada leluhur yang telah meninggal.


Bagaimana Pandangan Islam


Ruwahan merupakan tradisi dalam ajaran Hindu. Ritualnya sendiri meliputi ritual keliling desa, ritual bersih desa hingga bersih kubur, ritual kenduri, ritual ziarah kubur dan berakhir dengan ritual padusan/mandi. Dalam tradisi tersebut yang diagungkan adalah roh-roh penunggu punden desa, roh nenek moyang dan para dewa.

Ketika islam pertama kali diperkenalkan kepada nenek moyang kita oleh para wali, tradisi ruwahan ini tetap dipertahankan khususnya nilai-nilai luhur yang sejalan dengan ajaran Islam secara ibadah horizontalnya, namun sudah dibedakan NIAT bukan lagi mengagungkan roh atau dewa, namun semata-mata ibadah karena Allah SWT dalam bentuk ukhuwah, shodaqoh, ziarah kubur, doa anak shaleh, dsb.


Di bawah ini nama-nama bulan Jawa Islam. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah, dengan nama-nama Arab, namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sanskerta seperti Pasa, Sela dan kemungkinan juga Sura. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Nama-nama ini adalah nama bulan kamariah atau candra (lunar). Penamaan bulan sebagian berkaitan dengan hari-hari besar yang ada dalam bulan hijriah, misalnya Pasa berkaitan dengan puasa Ramadhan, Mulud berkaitan dengan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal, dan Ruwah berkaitan dengan Nisfu Sya'ban dimana dianggap amalan dari ruh selama setahun dicatat.

NoPenanggalan JawaLama Hari
1Sura30
2Sapar29
3Mulud30
4Bakda Mulud29
5Jumadilawal30
6Jumadilakir29
7Rejeb30
8Ruwah (Arwah, Saban)29
9Pasa (Puwasa, Siyam, Ramelan)30
10Sawal29
11Sela (Dulkangidah, Apit) *30
12Besar (Dulkahijjah)29/(30)
Total354/(355)
Ruwah adalah bulan ke 8 dalam kalender Jawa, yg sistem penanggalannya memakai sistem peredaran bulan. Karena sama-sama memakai sistem penanggalan bulan atau Qomariyah, maka bulan ini pun jadi identik dengan bulan ke 8 dalam kalender Islam, yakni bulan Sya’ban. Identik, tapi tidak sama. Karena penanggalan Jawa berganti tanggalnya setelah lepas tengah hari bolong, atau setelah masuk waktu sholat Dluhur sekitar jam 13-14. Sedangkan dalam penanggalan Islam bergesernya tanggal adalah selepas terbenamnya matahari, atau sama dengan masuk waktu sholat Maghrib.

Ary Budiyanto dalam suatu makalahnya, “Kearifan tradisi Ruwahan”, dalam ajaran para wali tradisi ruwahan tersebut telah banyak bergeser ke ajaran Islam dengan pemaknaan tertentu, misal :
  • tradisi nyadran (ziarah kubur), dimanifestasikan untuk mengingat kpd datangnya kematian dan memicu kesiapan bekal kita untuk masa hidup setelah kematian tersebut.
  • tradisi nyadran juga dimanifestasikan sebagai wujud amalan bakti anak yang shaleh kepada ortunya, sebagai amal yg tak putus2 (birul walidain).
  • bersih desa, lebih menitik beratkan kpd kegotong royongan dan guyub rukunnya warga untuk memelihara lingkungannya (ukhuwah) agar jadi bersih dan lebih indah ketika bulan puasa nantinya. Kebersihan sendiri merupakan salah satu wujud keimanan, bukan?
  • kenduri dan megengan (kirim-kirim hantaran makanan; yang di tradisi Aceh harus dengan daging = “meugang”) adalah manifestasi dari paktik doa bagi semua keluarga sanak saudaranya yang masih hidup dengan saling bersilaturahmi, saling memaafkan dan membantu untuk siap memasuki ibadah puasa dengan rasa yang suci penuh suka cita menjadi kesadaran orang Islam Jawa
  • Pada acara nyadran bebungaan ditaburkan di atas pusara mereka yang kita cintai, karena itu nyadran juga disebut nyekar (menghantarkan bunga). Indahnya warna-warni bunga dan keharumannya menjadi simbol bagi orang Jawa untuk selalu mengenang semua yang indah dan yang baik dari diri mereka yang telah mendahului.
  • mandi untuk mensucikan diri dari hadats besar, sehingga lengkaplah kesiapannya menapaki ibadah puasa nantinya.
Dengan demikian, ritus itu memberikan semangat bagi yang masih hidup untuk terus berlomba-lomba demi kebaikan (fastabiqul khoirat).

Bahkan di daerah kota santri di pantura, Tradisi megengan di bulan Ruwah yang bisa jadi berlangsung seminggu sebelum Puasa tidak hanya menciptakan relasi kesalehan sosial di masyarakat Jawa, namun tradisi ini juga menumbuhkan relasi putaran perekonomian. Pasar kaget ruwahan seperti halnya Dugderan di Semarang atau Dhandangan di Kudus, muncul sebagai dampak kebutuhan masyarakat pada waktu itu untuk menyemangati anak-anak dan keluarganya, misal untuk membelikan sarung, mukena, jilbab dan peci yang baru, kitab Quran yang baru, dan kain-kain untuk mengganti mihrab di surau dan masjid desa, atau agar dapat membeli bahan-bahan kebutuhan selama awal-awal minggu di bulan puasa. (inget kan dulu pasar tak setiap hari atau setiap jam buka seperti sekarang?)

Di dalam masyarakat Jawa sendiri setiap tindakannya erat sekali dengan simbol-simbol, dalam rangka untuk lebih memaknai suatu ibadahnya. Sebagai misal dalam tradisi megengan biasanya ada hantaran ke tetangga atau kerabat saudara, isi hantaran tradisi megengan di Jawa ini tidak pernah meninggalkan tiga sajian makanan yakni ketan, kolak, dan apem. Makna dari ketiga makanan itu adalah :
  • ketan yang lengket merupakan simbol mengeratkan tali silaturahmi,
  • kolak yang manis bersantan mengajak persaudaraan bisa lebih ‘dewasa’ dan barokah penuh kemanisan,
  • dan apem berarti jika ada yang salah maka sekiranya bisa saling memaafkan (ahfum).
Bahkan di beberapa tempat yang mayoritas warganya bekerja atau bertempat tinggal di luar daerahnya, di dalam tradisi ruwahan juga mengenal Mudik Ruwahan.
Mudiknya orang Jawa untuk ruwahan tak ubahnya sedang mereplika sirah Nabi Muhammad ketika beliau dan para sahabatnya hijrah ke Yatsrib atau Madinah, yakni mudik untuk melakukan tiga hal yang dibangun untuk mengukuhkan iman keislaman yakni mendirikan masjid, pasar, dan mengikat tali persaudaraan.

Selama ibadah tersebut berarah horizontal, perbedaan pelaksanaan antara daerah satu dengan lainnya tentu tak layak jika serta merta dituding sebagai penyakit TBC (Takhayul, Bidáh dan Churafat). Ingat bahwa kunci dari semua amalan adalah NIAT?

Berbakti kepada kedua orangtua tidak hanya sebatas ketika mereka masih hidup, tetapi berlanjut sampai keduanya meninggal. Ruwahan merupakan salah satu bentuk Birrul Walidain, dengan melakukan doa dan ziarah kubur kepada orangtua, kerabat dan leluhur yang telah meninggal.


Diriwayatkan dari Abu Usaid Malik ibnu Rabi'ah as-Sa'idi, ia berkata, "Ketika kita duduk bersama di samping Rasulullah SAW. tiba-tiba datang seorang laki-laki dari bani Salamah dan berkata, 'Wahai Rasulullah, masih adakah amalan yang harus saya lakukan untuk berbakti kepada bapak dan ibu setelah mereka meninggal?' Kemudian beliau menjawab, 'Ya, yaitu mengerjakan shalat untuk kedua orangtua (maksudnya mendoakan kedua orangtua atau menshalati jenazahnya). memohon ampunan atas segala dosanya, melaksanakan janji mereka setelah mereka meninggal, meneruskan tali silaturahmi yang pernah dilakukan orangtua ketika masih hidup, dan memuliakan kawan-kawannya." (HR Abu Dawud dalam Sunan-nya dan Ahmad dalam Musnad: 3/398)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda, "Seorang hamba berbuat durhaka kepada orangtuanya sampai kedua orangtuanya atau salah satunya meninggal dunia. Lalu dia terus berdoa memintakan ampunan untuk kedua orangtuanya, sehingga akhirnya Allah SWT mencatatnya sebagai anak yang berbakti." (HR. Baihaqi dalam Syu'abul Iman)


Diriwayatkan dari Malik bin Zararah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Meminta ampunan yang dilakukan oleh seorang anak untuk kedua orangtuanya setelah keduanya meninggal adalah termasuk bentuk berbakti kepada orangtua." (HR Ibnu an-Najjar)


Maada fii sya'ban ?

Ada apa di bulan Sya'ban 


Allaahumma Bariklana fii Rojaba Wa Sya'bana Wa Balighna Romadlona


Bersambung ...


*) Dari berbagai sumber:

  1. Pengajian Abah Hana
  2. http://sosbud.kompasiana.com/2014/06/04/tradisi-ruwahan-kenapa-tidak-659745.html
  3. http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Jawa

Jumat, 06 Juni 2014

Sarasehan Nasional : Dialog Kebangsaan

Dialog kebangsaan dalam sarasehan Nasional dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Islam Yogyakarta pada Jum'at, 6 Juni 2014 dengan narasumber Prof . Dr. Alwi Sihab.

Sabtu, 17 Mei 2014

SANLAT PASCA UN 2014

Kegiatan pesantren kilat (Satlat) Pasca Ujian Nasional bagi pelajar yang baru akan lulus pendidikan tingkat SMA/SMK/MA (Karena Pengumuman UN baru besuk Selasa, tanggal 20 Mei 2014). Dilaksanakan dan berlangsung di Pondok Pesantren Al Islam Yogyakarta diikuti oleh 60 peserta dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Sleman, Gunungkidul, Kulon Progo, Temanggung, dan Magelang, dibuka oleh Rois Syuriah PW NU DIY, KH Asyhari Abta pada Sabtu, 17 Mei 2014.

Keenam puluh peserta Sanlat akan menjalani masa pemondokan selama satu bulan dan menerima pembekalan, baik materi akademik maupun non-akademik di Pondok Pesantren Al Islam Yogyakarta. Bagi santri Sanlat, diharapkan bisa membantu para santri untuk menjadi tenaga profesional yang memiliki ikatan dengan Nahdlatul Ulama, dan untuk memenuhi kebutuhan kader NU yang profesional dari berbagai disiplin ilmu.

Pada materi non-akademik, peserta Sanlat digembleng dengan materi tentang NU dan Ahlussunnah wal Jamaah. Sedangkan, pembekalan akademik diorientasikan pada materi untuk menyongsong pelaksanaan seleksi penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri. “Salah satu targetnya, para santri Sanlat bisa lulus seleksi masuk perguruan tinggi negeri”.

Senin, 05 Mei 2014

PPDB 2014/2015 PP Al Islam Yogyakarta


Pendaftaran Siswa-Santri Baru : Tingkat SMP dan SMA Tahun Pelajaran 2014-2015 Pondok Pesantren Al Islam Yogyakarta
  • Program Reguler (Umum)
  • Program Siswa-Santri (Boarding School)
  1. Mengisi Formulir Pendaftaran
  2. Menyerahkan Foto 3x4 terbaru = 5 lembar
  3. Menyerahkan fotocopy SKHUN, STTB / Ijasah SD/MI dan atau SMP/Mts = 3 lembar
  4. Menyerahkan fotocopy C1/Kartu Keluarga, dan Akte kelahiran = 2 lembar
  5. Membayar administrasi pendaftaran
  6. Mengikuti Tes Seleksi Calon Kelas Unggulan (Program Siswa Santri).
  7. Sanggup tinggal dan mentaati peraturan di Asrama Pesantren
  8. Melampirkan fotocopy piagam / sertifikat prestasi akademik / non akademik (jika ada)
  9. Hal-hal yang belum jelas dapat di tanyakan di bagian humas (Ust Abu Aqdam) telp. (0274) 389435, HP. 081578866744, 08882795441 
   Materi Tes
   A. Kemampuan baca tulis Al Qur'an
   B. Wawancara
   C. Kemampuan Dasar

   Waktu Pendaftaran :
   Seiap hari mulai jam  07.00 – 12.00 WIB.
                                  13.00 – 16.30 WIB.

   Tempat pendaftaran :
   Gedongkiwo MJ I / 814 Yogyakarta 55142
   Telp, Fax : (0274) 389435

Juara 3 MTQ DIY Tahun 2014

Nur'aini Santri PP Al Islam Yogyakarta meraih Juara 3 pada MTQ DIY Tahun 2014 Cabang MHQ 5 Juz dan Tilawah Putri. MTQ dilaksanakan di Kabupaten Sleman 1 -3 Mei 2014.

Selasa, 29 April 2014

Training Jurnalistik Santri

Kementrian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta Bidang PAKIS menyelenggarakan Tranining Jurnalistik Santri di Pondok Pesantren Al Islam Yogyakarta pada Selasa, 29 April 2014 dengan narasumber DR. Abdul Mustaqim, MAg.
Menurut Rokhwan, SAg. MSi. training di Ponpes Al Islam Yogyakarta merupakan putaran kelima atau terakhir, kegiatan ini telah berlangsung sejak tanggal 21 April 2014 di kabupaten/kota se DIY. diikuti oleh 50 santri Ponpes Al Islam. Setelah mengikuti Training, peserta akan dipilih lima orang untuk mengikuti kegiatan lanjutan bersama lima peserta dari kabupaten/kota se DIY yang akan datang. Juga diberikan tugas penulisan.

Jumat, 25 April 2014

Amal Sholeh Tiada Berarti Tanpa Rahmat Allah


Marilah kita syukuri segala nikmat apapun bentuknya yang Allah Swt  telah berikan kepada kita, Syukur dengan meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Swt. Kita laksanakan perintah-perintah-Nya, karena setiap apa yang Allah Swt perintahkan, pasti mengandung manfaat, dan kita jauhi segala larangan Allah Swt, karena setiap yang dilarang Allah, pasti mengandung madhorot.

Insya Allah Tidak kurang kita 17 x membaca "Bismillaahirrahmaanirrahiim" sehari semalam, karena dalam shalat 5 waktu 17 rakaat kita membaca Alfatihah, yang diawali dengan "Bismillaahirrahmaanirrahiim". Bismillaahi (ngawiti sopo ingsun kelawan nyebut asmane gusti Allah), Arrahmaani (kang kagungan sifat rahman), Arrahiimi (lan kagungan sifat rahiim).

Allah Swt dengan sifat Rahman-Nya memang melimpahkan rahmat-Nya di dunia kepada semua makhluq, semua manusia, baik yang taat maupun yang membangkang, bahkan yang menentang Allah sekalipun. Maka jangan heran jika ada orang yang tidak beribadah bahkan membangkang dan kafir justru hartanya melimpah, tubuhnya sehat, nampak hidupnya serba kecukupan.

Namun perlu diketahui bahwa karunia yang diperoleh itu terbatas hanya ketika di dunia. Lain halnya dengan mereka-mereka yang taqwa, Allah Swt dengan sifat Rahim-Nya menyediakan rahmat bagi mereka hingga di akherat kelak.
Sesuai dengan firman-Nya dalam Al Quran surat Al A'raf ayat 156 : 

"... dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami". (QS. Al A'raf :156)

Ayat itulah yang ditafsiri oleh Ibnu Abbas RA bahwa rahmat Allah diperuntukkan bagi siapapun, termasuk yang berbuat maksiat, asal mereka memiliki ilmu untuk untuk memperoleh rahmat tadi. Misalnya : orang yang menginginkan harta benda melimpah, karena dia memiliki ketrampilan, menguasai iptek, berpendidikan tinggi dan memiliki ilmu penunjang lainnya, maka merekapun bisa kaya raya. Namun kekayaan itu hanya sebatas ketika di dunia saja. Sedangkan mereka yang mampu meraih rahmat sampai ke akherat, hanyalah mereka-mereka yang taqwa. (Al Fairuzabadi, Tanwirul Miqbas min tafsir Ibni 'Abbas Hlm. 109).

Apa bukti bahwa rahmat Allah itu untuk semua makhluk ?

Sebagai bukti bahwa rahmat Allah itu diperuntukkan bagi semua makhluk-Nya di muka bumi ini, misalnya adalah bumi yang semula gersang disuburkan dengan hujan oleh Allah, yang tentu saja bisa dinikmati oleh semua orang hingga orang kafir sekalipun. 
Al Quran surat Ar Rum ayat 50 menyebutkan :

"Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati ..." (QS. Ar Rum 50)

Juga di bagian lain, Allah SWT berfirman dalam Al Quran :

"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian ..." (QS. Al Baqarah 29)

Demikian pula rahmat berupa akal fikiran yang cerdas, juga diberikan oleh Allah kepada siapapun. Sayangnya, manusia banyak yang lalai untuk mensyukuri nikmat karunia-Nya. Padahal Allah sudah memenuhi kebutuhan hidup mereka, bahkan jika mau menghitung-hitung nikmat Allah di dunia ini, tidak mungkin akan terhitung, saking banyaknya.

Terlebih lagi rahmat yang akan diperoleh di akherat kelak, yaitu yang disediakan bagi orang-orang yang taqwa. Karena sebenarnya rahmat Allah yang dinikmati oleh para hamba-Nya di dunia baru 1 bagian saja, sedangkan yang 99 bagian hanya bisa dinikmati oleh hamba-hamba-Nya yang taqwa di akherat. 
Sesuai sabda Nabi Muhammad SAW :

"Allah telah menjadikan rahmat (kasih sayang) sebanyak 100 bagian. Yang ditahan di sisi-Nya 99 bagian dan yang diturunkan ke bumi 1 bagian. Dari yang sebagian itu makhluk saling berkasih sayang, sampai-sampai seekor kuda mengangkat telapak kakinya dari anaknya takut kalau-kalau menimpanya." (HR. Bukhari, Jawahirul Bukhari Hlm. 463).

Kuda karena kasih sayangnya rela mengangkat kakinya khawatir kalau-kalau sampai menginjak anaknya; seorang ibu rela mengorbankan seluruh jiwa raganya, adalah karena kasih sayangnya terhadap si anak. Seorang pria, rela mengorbankan apapun terhadap wanita pujaannya, juga karena cinta dan kasih sayang. Bahkan segenap ummat Islam diperintahkan untuk memohonkan rahmat dan barokah kepada Allah bagi yang ditemuinya melalui salam Islam. Sampai dengan orang setelah sholat berakhirpun diperintahkan agar memohonkan rahmat Allah untuk makhluk di kanan kirinya.

Semua itu baru realisasi dari satu bagian rahmat Allah yang diturunkan ke dunia.

Oleh karena itu betapa pentingnya rahmat Allah itu. Bahkan Rasulullah SAW pernah menjelaskan bahwa yang memasukkan seseorang ke dalam surga bukan semata-mata amal sholehnya, kalau saja tidak memperoleh ampunan (maghfiroh) dan rahmat Allah SWT.
Aisyah RA pernah menyampaikan sabda Rasulullah SAW :

"Tunjukkanlah kepada manusia, dekatilah dan berilah kabar gembaira, sebenarnya amal seseorang itu tidak akan memasukkan dia ke dalam syurga. Mereka bertanya,: Tidak juga paduka ya Rasulullah ? Nabi menjawab,"tidak juga aku, kecuali Allah mengaruniai aku dengan ampunan dan rahmat-Nya."(HR. Bukhari)

Bahkan tanpa rahmat Allah bukan saja tidak masuk surga, akan tetapi termasuk juga manusia akan memperoleh kerugian. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al Quran :

"... Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas kalian, niscaya kalian tergolong orang yang rugi." (QS. Al Baqarah 64)

Selanjutnya, rahmat atau karunia Allah itu ada yang besar, ada yang kecil, dan ada pula yang sempurna. Demikian menurut Bey Arifin dalam buku Samudra Al Fatihah susunannya. Yang termasuk kategori rahmat kecil adalah segala rahmat yang hanya bisa dinikmati di dunia. misalnya rahmat hidup, sehat, kekayaan, jabatan, ketrampilan, dll.

Kita mestinya juga membutuhkan rahmat itu, namun jangan terbuai oleh rahmat kecil, sebab yang lebih utama lagi adalah rahmat yang besar. Yaitu rahmat yang tidak bisa dinilai dengan seluruh harta kekayaan, rahmat yang kekal abadi. Yaitu keimanan atau agama yang benar, ilmu yang merupakan jalan lurus kehidupan (shirathal mustaqim), perasaan bahagia yang bersumber dari iman, memiliki perasaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta cinta pula kepada ajaran-ajaran-Nya. Sedangkan rahmat yang paling sempurna adalah masuk surga. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

"Tamaamun Nu'mati Dukhuulul Jannati" artinya : "Nikmat/rahmat sempurna adalah masuk surga."

Dengan tersedianya rahmat Allah yang tak terhingga banyaknya itu, sudah semestinya kita harus berupaya untuk dapat meraih rahmat Allah tadi yaitu dengan mentaati segala perintah-Nya, mensyukuri segala karunia-Nya, sabar terhadap segala cobaan-Nya.

Lamun siro kabeh podo syukur marang nikmate gusti Allah mongko gusti Allah bakal nambah nikmate, Lan menowo podo kufur siro kabeh marang nikmate gusti Allah, Saktemene siksane gusti Allah nggegirisi banget.

Dalam setiap kesempatan, jangan hanya berdoa untuk diri sendiri dan keluarga, memohon dan berdoa untuk kebutuhan-kebutuhan mendesak untuk besuk pagi dan lain sebagainya, tetapi sempatkan untuk memohon rahmat-Nya, nyuwun kawelasanipun gusti Allah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang dilimpahi rahmat-Nya sejak rahmat kecil, rahmat besar, hingga rahmat yang sempurna. Amin.

Minggu, 02 Februari 2014

GEMA "has come from our self"

Suatu hari seorang anak kecil dan ayahnya berjalan di sebuah gunung. Karena jalannya licin tiba-tiba anak itu tergelincir dan menjerit. “Ah… ah… ah,” Tetapi betapa kagetnya ia ketika terdengar ada suara di balik gunung, "Ah... ah... ah." Dengan penuh rasa ingin tahu ia kembali berteriak. “Hai siapa kau?”  Ia mendengar lagi suara di balik gunung. “Hai siapa kau?” Mendengar hal itu ia merasa dipermainkan. Dan dengan marah ia berteriak lagi. “Kau pengecut!”  Tetapi sekali lagi dari balik gunung terdengar suara balasan, “Kau pengecut!”.

Bingung dengan apa yang telah terjadi. Kemudian si anak kecil bertanya pada ayahnya, “Ayah sebenarnya apa yang terjadi? Siapa orang yang meniru ucapanku tadi? Kenapa aku tidak melihatnya?” Mendengar pertanyaan anak kecil tadi. Sang ayah lalu berkata. “Anakku, mari perhatikan ini!” :

Kemudian sang ayah berteriak sekuat tenaga pada gunung. “Aku mengagumimu!” Terdengarlah: “Aku mengagumimu!”. 

Sekali lagi ayahnya berteriak. “Kau adalah sang juara, lalu muncul lagi suara: “Kau adalah sang juara.”

Anak itu merasa terhera-heran tapi masih juga belum memahami.

Kemudian ayahnya menjelaskan,

“Anakku orang-orang menyebutnya gema. Tapi sesungguhnya ada makna lain dalam kehidupan kita ini. Ia akan mengembalikannya kepada kita apa saja yang sudah kita lakukan dan kita katakan. Hidup kita ini adalah refleksi dari tindakan kita.”

Ya, bila kita ingin mendapatkan lebih banyak ketulusan dan kasih sayang di dunia ini maka berikanlah ketulusan dan kasih sayang dari hati kita.
Bila kita ingin mendapatkan kebaikan dari orang lain maka berikanlah kebaikan dari diri kita. Hal ini berlaku pada siapa saja dan pada semua aspek kehidupan.
Hidup akan memberikan apa yang telah kita berikan padanya. Maka sebenarnya hidup ini bukan suatu kebetulan. Hidup adalah pantulan dari diri kita.

Renungkan. !

Sabtu, 25 Januari 2014

Pelatihan Rajut

Santriwati PP Al Islam pelatihan ketrampilan Rajut benang, kegiatan perdana dilakukan pada 24 Januari 2014 bersama dengan Muslimat Kecamatan Matrijeron Yogyakarta di PP Al Islam dan dilaksanakan setiap hari Jum'at. Pelatihan di bimbing oleh Hj. Ririn dan Ibu Nur.

Menurut Pengasuh PP Al Islam dalam pengantar dan sambutannya menyatakan, kegiatan ini dalam rangka membekali santri dengan ketrampilan(soft skill), dengan mengambil pelajaran dari kisah umat terdahulu, bahwa Islam mewajibkan umatnya bekerja, mengendalikan dan mengoptimalkan daya pikir dan ketrampilan (jiwa dan raga). Insya Allah para santri memiliki bekal ilmu agama, ketrampilan, dan calon Juragan. Dalam kitab Ta'lim disebutkan "belajar dahulu, pandai, sehat, dan kaya".

Bagaimana dengan Nabi Dawud As. adalah tukang Tenun, membauat kain dan baju besi, Nabi Adam As. adalah seorang petani, Nabi Nuh As. adalah Tukang kayu, Nabi Idris As. adalah seorang penjahit pertama di dunia, Nabi Ibrahim As, adalah pedagang pakaian, Nabi Musa As. adalah penggembala, Nabi Muhammad SAW. adalah penggembala ternak suku Quraiys, dan bahkan Nabi Sulaiman As. biasa berkhutbah sambil membuat anyaman keranjang belanja dari janur atau kerajinan lainnya yang kalau sudah jadi kemudian di jual.

Sedangkan Ibu Hj. Ririn menyambut gembira dengan pelatihan ini bahkan akanberusaha memfasilitasi proses pelatihan ini lewat showroom dan koperasi yang telah ada, insya Allah bisa melaksanakan rukun Islam ke 5 (Haji) dengan ketrampilan rajut benang ini, Aamiin sambung para santriwati AL ISLAM.
 



Selasa, 21 Januari 2014

Bekal Terindah bagi Perindu Husnul Khatimah

Judul kitab : Nashaih al-‘Ibad Syarh al-Munbbihat ‘ala al-Istimdad li Yaum al-Ma‘ad li Al-Imam Syihab ad-Din Ahmad ibn Hajar 

Penulis : Syaikh Muhammad An-Nawawi bin Umar Al-Jawi

Penerbit : Penerbit Maktabah Karya Thoha Putra, Semarang


“Ya Allah, muliakanlah umat Nabi Muhammad ini dengan semua anugerah-Mu di dunia dan akhirat sebagai bentuk penghormatan dari-Mu bagi mereka yang telah Engkau jadikan sebagai bagian dari umat Baginda Nabi SAW.”

Syaikh Nawawi bin Umar Al-Jawi, menjelaskan ungkapan Imam Ibnu Hajar RA, berkata, “Imam Ibnu Hajar RA berkata, ‘Telah mengijazahkan kepadaku Sayyidi As-Sayyid Ahmad Al-Mirshafi Al-Mishri se­telah sebelumnya aku diijazahi oleh guru­ku, Sayyidi As-Sayyid Abdul Wah­hab bin Ahmad Farhat Asy-Syafi`i, dari masyayikh mereka, secara musalsal bil awwaliyah, sampai kepada Abdullah bin Umar bin Ash` dari Nabi SAW, bahwa be­liau, Sayyi­dul Akhlaq wal Khalaiq (Penghulu sekalian Akhlaq Mulia dan se­kalian Makhluk), SAW bersabda, ‘Orang-orang yang hatinya pe­nuh kasih sayang disayangi oleh Yang Maha Pemilik kasih sayang Tabaraka wa Ta`ala. Maka sa­yangi dan kasihilah siapa pun yang ada di muka bumi, niscaya kalian akan di­sayangi dan dikasihi oleh siapa pun yang ada di langit.’”
Imam Ali bin Abi Thalib RA berkata, “Jadilah engkau di sisi Allah sebaik-baik manusia dan jadilah engkau dalam pan­dangan nafsu seburuk-buruk manusia dan jadilah engkau seseorang di antara manusia.”
Makna ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib, “Jadilah engkau di sisi Allah se­baik-baik manusia dan jadilah engkau da­lam pandangan nafsu seburuk-buruk ma­nusia”, janganlah pernah merasa me­miliki kemuliaan yang membuatmu me­rasa lebih baik dari orang lain.
Makna ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, qad­dasallahu sirrahu. Beliau berkata, “Apa­bila bertemu dengan seseorang, hen­dak­lah engkau melihatnya lebih mulia atas dirimu dan engkau katakan, ‘Tentu ia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya dariku di sisi Allah SWT.’
Bila yang engkau jumpai adalah se­orang anak yang masih belia usianya, ka­takanlah, ‘Anak ini sungguh belum ber­buat durhaka kepada Allah SWT sedang aku sungguh teramat banyak berbuat durhaka dan kemaksiatan kepada-Nya. Sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku.’ Dan bila yang engkau jumpai ada­lah seseorang yang sudah berumur, kata­kanlah, ‘Sungguh orang ini lebih dahulu ber­ibadah kepada Allah SWT jauh sebe­lum aku, (maka sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku).’
Bila yang engkau jumpai adalah se­orang yang alim berilmu, katakanlah, ‘Sungguh orang ini telah dianugerahi se­suatu yang belum diberikan kepadaku, telah sampai kepada pengetahuan yang aku belum mengetahuinya, telah menge­tahui berbagai sesuatu yang belum aku ketahui, dan ia beramal dengan ilmunya, (sedang aku beramal dengan kebodoh­anku, maka sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku).’
Bila yang engkau jumpai adalah se­orang yang bodoh, tidak berilmu, kata­kanlah, ‘Sungguh orang ini, bilapun ber­buat dosa, ia berbuat dosa dengan ke­bodohannya, sedangkan aku berbuat dosa dengan ilmuku, dan sungguh aku tidak tahu bagaimana keadaannya di saat-saat kematian datang menjemput dan tidak tahu pula bagaimana diriku di saat-saat kematian menjemput diriku nantinya.’
Bila yang engkau jumpai adalah se­orang yang kafir, katakanlah, ‘Sungguh aku tidak tahu, boleh jadi kelak ia akan mati dengan husnul khatimah dan amal yang baik sedang aku boleh jadi pula akan menjadi kafir dan mati dalam ke­adaan su’ul khatimah — na`udzu billahi min dzalik (Sehingga, bila demikian adanya, sungguh tiada diragukan bila ia akan lebih baik dariku)’.”
Adapun ungkapan beliau, “…dan jadi­lah engkau seseorang di antara ma­nusia”, maknanya adalah bahwa se­sung­guhnya Allah SWT membenci me­lihat seorang hamba yang membeda-beda­kan diri dari orang lain, sebagai­mana dijelas­kan dalam hadits Nabi SAW.
Itulah sebabnya, sebagian ulama ba­nyak mendawamkan doa ini dalam mu­najat mereka.
Allaahummaj‘alnii shabuuraa waj‘alni syakuuraa waj‘alni fi ‘ainii shaghiiraa wa fii a‘yuninnasi kabiiraa.
“Ya Allah, jadikanlah hambamu ini se­orang yang sabar, dan jadikanlah daku seorang hamba yang senantiasa bersyu­kur atas segala karunia-Mu. Jadi­kanlah daku seorang hamba yang se­nantiasa merasa kecil dalam pandangan mataku dan besar dalam pandangan manusia.”

Maknanya, orang-orang yang hati­nya penuh dengan sifat-sifat kasih sayang dan belas kasih terhadap siapa pun yang ada di atas permukaan bumi, baik dari kalangan anak Adam bahkan juga hewan, selain hewan-hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya, de­ngan berbuat kebaikan terhadap mere­ka, niscaya Yang Maha Rahman akan mengasihi dan mencintainya. Karena itulah sayangi dan belas kasihilah siapa pun yang dapat engkau sayangi dari ber­bagai macam dan jenis makhluk Allah SWT, bahkan yang tidak memiliki akal sekalipun, dengan memberikan kasih sayang, berbuat baik kepada mereka, dan banyak mendoakan mereka dengan doa rahmat dan ampunan, niscaya kali­an akan disayangi dan dikasihi oleh para malaikat dan Dia, Yang rahmat-Nya me­li­puti bagi seluruh penduduk langit, yang jumlah mereka jauh lebih besar dari jumlah penduduk bumi.
Seorang shalihin bermimpi bertemu Imam Al-Ghazali. Imam Al-Ghazali pun ditanya, “Apa yang Allah SWT perbuat padamu?”
Imam Al-Ghazali menjawab, “Aku dibawa dan dihadapkan di hadapan-Nya kemudian Allah SWT berfirman kepada­ku, ‘Dengan bekal apa engkau mengha­dap-Ku?’
Maka aku pun mulai menyebutkan amal-amalku.
Lalu Allah SWT berfirman, ‘Aku tidak menerimanya. Sesungguhnya yang Aku terima darimu adalah saat suatu hari se­ekor lalat singgah di atas tempat tintamu untuk minum darinya di saat engkau te­ngah menulis. Kemudian engkau tidak me­lanjutkan menulis sampai lalat itu ke­nyang menghirup darinya karena eng­kau berbelas kasih terhadapnya.’
Kemudian Allah SWT berfirman, ‘Wa­hai para malaikat-Ku, bawalah ham­baku ini dan hantarkan ia ke dalam surga’.”
Teramat mahalnya nilai kasih sayang ini, bahkan Syaikh Nawawi menegas­kan, dan di antara sebab yang menda­tang­kan husnul khatimah di antaranya adalah mendawamkan doa berikut ini:
Allaahumma akrim hadzihil-ummatal muhammadiyyah bi jamiili ‘awa-idika fid-daarain ikraaman liman ja‘altahaa min ummatihi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam.
“Ya Allah, muliakanlah umat Nabi Muhammad ini dengan semua anuge­rah-Mu di dunia dan akhirat sebagai ben­tuk penghormatan dari-Mu bagi mereka yang telah Engkau jadikan sebagai bagian dari umat Baginda Nabi SAW.”

Di antaranya pula mendawamkan doa berikut ini di antara sunnah Subuh dan fardhunya:
Allaahummaghfir li ummati sayyi­dinaa Muhammad. Allaahummarham ummata sayyidinaa muhaamad. Allaahummastur ummata sayyidinaa Muhammad. Allaah­um­majbur ummata sayyidinaa Muhammad. Allaahumma ashlih ummata sayyidinaa Muhammad. Allahumma ‘aafi ummata sayyidina Muhammad. Allahum­mahfazh ummata sayyidinaa Muham­mad. Allahummarham ummata sayyidi­naa Muhammad rahmatan ‘aammah ya rabbal‘aalamiin. Allaahummaghfir li um­mati sayyidinaa muhmmad maghfiratan ‘aammah ya rabbal‘aalamiin. Allaahum­ma farrij ‘an ummati sayyidinaa muham­mad farajan ‘aajilan ya rabbal ‘aalamiin.
“Ya Allah, ampunilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, rahmatilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, tutupilah (segala aib dan cela) umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, tamballah (segala kekuarangan) umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, perbaikilah (keadaan) umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, sehatkan dan sejahterakanlah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, peliharalah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, rahmatilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad, dengan rahmat yang menyeluruh, wahai Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, ampunilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad, dengan ampunan yang menyeluruh, wahai Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, berikanlah kelapangan bagi umat penghulu kami, Nabi Muhammad, kelapangan yang segera tiada tertunda, wahai Tuhan seru sekalian alam.”

Juga dengan mendawamkan doa berikut ini:
Ya rabba kulli syai’ biqudratika ‘alaa kulli syai’ ighfir lii kulla syai’ wa laa tasalnii ‘an kulli syai’ wa laa tuhaasibnii fii kulli syai’ wa a‘thinii kulla syai’.
“Wahai Tuhan segala sesuatu, de­ngan kekuasaan-Mu atas segala se­suatu, ampunilah aku atas segala se­suatu (dari kesalahan yang aku lakukan), jangan Engkau pertanyai aku tentang se­gala sesuatu (dari dosa dan kedurhaka­an yang aku perbuat), jangan Engkau hi­sab aku pada segala sesuatu (dari se­mua keburukan yang aku berani untuk me­lakukannya), dan karuniakanlah ke­padaku segala sesuatu (dari segala ke­baikan di dunia dan akhirat).”

Sabtu, 18 Januari 2014

Macam Hukum

HukumAqly


HukumAqly ada tiga, yaitu:
1. Wajib, artinya perkara yang tidak boleh tidak akan adanya bagi ‘aqal fikiran.
2. Mustahil, artinya perkara yang tidak boleh tidak akan tiadanya bagi ‘aqal.
3. Jaiz, artinya perkara yang adanya dan tiadanya dapat diterima ‘aqal.
  

Hukum Syar’i


        Hukum syar’i ialah perintah Allah Ta’ala atas perbuatan mukallaf (yang diberatkan/ yang diberi tanggung jawab), maka disebut perintah yang memberatkan (taklif) disebut juga sebagai perintah yang jelas, sebab ditentukan syaratnya atau sebabnya.

Hukum syar’i ada tujuh, yaitu:
1. Wajib, artinya perkara yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan mendapat dosa.
2. Sunnah, artinya perkara yang jika dikerjakan mendapat pahala.
3. Haram, artinya perkara yang jika dikerjakan mendapat dosa dan jika ditinggalkan mendapat pahala.
4. Makruh, artinya perkara yang jika dikerjakan tidak mendapat dosa, tetapi perbuatan tersebut tidak disukai Allah dan jika ditinggalkan mendapat pahala.
5. Mubah, artinya “harus syar’i”, yaitu perkara yang jika dikerjakan ataupun ditinggalkan tiada mendapat dosa atau pahala.
6. Shahih (sah), artinya perkara yang lengkap segala syaratnya dan segala rukunnya.
7. Bathal, artinya perkara yang kurang syaratnya atau rukunnya.
  
Hukum ‘Ady (Adat/Kebiasaan)

           Hukum ‘ady artinya menetapkan suatu perkara bagi suatu hal, atau menetapkan suatu perkara pada suatu hal dengan alasan perkara tersebut berulang-ulang.
1. Pertambatan/penetapan keadaan suatu perkara dengan keadaan perkara lainnya. Misalnya keadaan kenyang dengan keadaan makan.
2. Penetapan ketiadaan suatu perkara dengan ketiadaan perkara lainnya. Misalnya ketiadaan kenyang dengan ketiadaan makan.
3. Penetapan keadaan suatu perkara dengan ketiadaan perkara lain. Misalnya keadaan dingin dengan ketiadaan selimut.
4.  Pentapan ketiadaan suatu perkara dengan keadaan suatu perkara lain. Misalnya ketiadaan hangus dengan adanya siraman air.

Sekarang anda telah mengetahui perbedaan wajib syar’i dengan wajib ‘aqly. Jika disebutkan wajib atas tiadp mukallaf maksudnya ialah wajib syar’i. Jika disebutkan wajib bagi Allah Ta’ala atau bagi Rasulullah, maka maksudnya ialah wajib ‘aqly. Jika dikatakan jaiz bagi mukallaf, maka maksudnya jaiz syar’i. Jika dikatakan jaiz bagi Allah Ta’ala, maka maksudnya adalah jaiz ‘aqly.

Yang wajib pada Allah ‘Azza wa Jalla dengan tafshil disebut sifat dua puluh, yang telah berdiri dalil ‘aqly dan naqly atasnya. Wajib atas tiap mukallaf mengetahui dengan ijmaly saja didalam perkataan (bersifat Allah Ta’ala dengan setiap sifat  kesempurnaan. Adapun yang mustahil pada Allah ‘Azza wa Jalla dengan tafshil ada 20 perkara, yaitu lawan dari dua puluh sifat yang wajib bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Yang mustahil pada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ijmaly yaitu yang ada di dalam perkataan “Maha Suci Allah dari dari setiap sifat kekurangan dan dari perkara yang terbayang (terbersit) di hati.”

Rabu, 15 Januari 2014

Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H

Kitab Bidayah Wannihah (Ibnu Katsir): ibnu katsir memuji amalan maulid khalifah sultan almuzaffar (saudara ipar shalhuddin al ayubi) yang buat maulid diseluruh negeri tiap tahunnya.

  • Senin, 12 rabiul awal : hari kelahiran nabi
Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya.


 عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم”


Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (H.R. Muslim, Abud Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).

  • 12 rabiul awal : Nabi tiba dimadinah dalam peristiwa isra mi’raj 

Sahabat Ansor berdiri Menyambut Nabi.
Sahabat memukul Rebana dan Syair:
“Thala’al badru ‘alayna – Mintsaniyatil wada’
Wajaba syukru ‘alaina — mada’a lilahi da’i

  • Pembacaan Burdah dalam acara Maulid 1435 H






Minggu, 15 Desember 2013

Pengajian Akbar PP Al Islam (Haflah Tasyakur Lil Ikhtitam III)

Foto kegiatan Haflah Khatmil Qur'an III PP Al Islam Tahun 2013 M / 1435 H















Rabu, 11 Desember 2013

Seminar Motivasi Santri

Kang Kun memberikan motivasi meraih mimpi kepada santri al islam pada selasa, 10 Desember 2013 di aula pondok pesantren Al Islam Yogyakarta.
Menurut Muhammad Fariz Zulham kegiatan ini sebagai rangkaian kegiatan Haflah Tasyakur Lil Ihtitam ke III Pondok Pesantren Al Islam Yogyakarta

Jumat, 06 Desember 2013

Rangkaian Kegiatan Haflah Tasyakur Lil Ikhtitam III PP Al Islam Yogyakarta

Pondok Pesantren Al Islam Yogyakarta akan melaksanakan Haflah Tasyakur Lil Ikhtitam III besuk pada Rabu, 11 Desember 2013 di Komplek Masjid Agung Condronegaran Gedongkiwo Yogyakarta.

Berikut rangkaian acara dalam rangka Haflah Tasyakur Lil Ikhtitam III PP Al Islam Yogyakarta :
Sabtu, 7 Desember 2013
  • 20.00 - 22.00 Muqadaman dan Istighasah
Ahad, 8 Desember 2013
  • 07.00 - 11.00 Ziarah Maqbarah
Senin, 9 Desember 2013
  • 20.00 - 21.00 Mujahadah
Selasa, 10 Desember 2013 Semaan Al Qur'an
  • 13.00 - 15.00 Seminar Kesehatan dan Motivasi Santri Meraih Impian
Rabu, 11 Desember 2013 :
  • 13.00 - 15.00 Temu Wali Santri
  • 16.00 - 17.00 Pentas Seni Kreasi Santri
  • 19.30 - 20.30 Prosesi Wisuda Khatmil Qur'an : Juz Amma Bil Ghaib, 30 Juz Binnadzar, 5 Juz Bil Ghaib, dan 10 Juz Bil Ghaib
  • 20.30 - 21.00  Tahlil dan Doa oleh : KH. R. Najib Abdul Qadir
  • 21.00 - 21.30 Sambutan-sambutan
  • 21.30 - 22.00 Maulidur Rasul
  • 22.00 - 23.30 Pengajian Akbar oleh : KH Mahyan Ahamad

Rabu, 13 November 2013

“Jangan sampai kita kalah 3 kali”

Puasa Sunnah ‘Asyura Tanggal 9 dan 10 Bulan Muharram :Puasa Tasu'a dan 'Asyura


Alangkah indah dan mulia jika segala amal dilaksanakan dengan niat semata karena Allah, dan segala perbuatan amal tergantung pada niatnya. Maka bagus kalau kita telah berniat untuk melaksanakan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, yaitu puasa di bulan Muharram (Puasa Tasu'a dan 'Asyura) dimana puasa 'Asyura pada tahun ini bertepatan dengan hari Kamis, yang mungkin ada sebagian kaum muslimin telah mendawamkan puasa sunnah Senin dan Kamis. Sehingga mendapatkan keutamaan pahala puasa sunnah hari Kamis dan puasa 'Asyura. Demikian pula bagi perempuan muslim untuk berniat lebih awal untuk puasa Tasu'a dan Asyura dari berjaga bila kemudian hari terkena udzur karena datangnya tamu rutin setiap bulan.

Pada Rabu dan Kamis, tanggal 13 dan 14 November 2013 bertepatan dengan tanggal 9 (Tasu'a) dan 10 ('Asyura) Muharram 1435 H Disunahkan untuk berpuasa. Puasa yang paling utama setelah puasa bulan Ramadhan adalah puasa pada tanggal 10 bulan Muharram (puasa Asyura).

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah SWT berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

"Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram" (QS. At Taubah: 36)

Imam Muslim serta yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةَ، صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”.

Dan puasa ‘Asyura menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu. Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah Radhiallahu’anhu

وَصَوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ إنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة َالتِيْ قَبْلَهُ

“Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”.

Orang-orang musyrik Quraisy Jahiliyah pada masa pra Islam dan bangsa Yahudi sangat memuliakan hari ini. Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga telah melaksanakan puasa 'Asyura. Bagaimana dengan kita ? 
Mereka menganggap hari tersebut adalah hari yang agung sehingga mereka melakukan penggantian kain Ka'bah (Kiswah) pada hari tersebut. Rasulullah SAW juga telah melaksanakan puasa Asyura sejak sebelum diangkat menjadi Nabi sampai saat beliau hijrah ke Madinah. Hal ini mengindikasikan, puasa 'Asyura diwarisi olek kaum Quraisy dari ajaran nabi Ibrahim AS. dan Ismail AS.

Bulan Muharram memiliki keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw. menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah. 
 Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadlan. Rasulullah saw. bersabda: 

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti  Musa as. dari mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa” (HR Bukhari).

Dan dari Aisyah radiyallahu ‘anha, ia mengisahkan,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. [HR Al Bukhari No 1897]

Dari Salamah bin Al-Akwa' RA berkata : Nabi SAW memerintahkan seseorang dari suku Aslam : "Umumkanlah kepada masyarakat bahwa barangsiapa tadi pagi telah makan, maka hendaklah ia berpuasa pada sisa harinya. Dan barangsiapa belum makan tadi pagi, maka hendaklah ia berpuasa. Karena hari ini adalah hari 'Asyura." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Rubayyi' binti Mu'awwidz RA berkata: "Rasulullah SAW mengirimkan seorang pemberi pengumuman pada hari 'Asyura ke kampung-kampung Anshar, untuk mengumumkan "Barangsiapa tadi pagi telah makan, hendaklah ia menyempurnakannya sampa akhir hari ini (berpuasa) dan barangsiapa telah berpuasa sejak tadi pagi, maka hendaklah ia berpuasa." Seja saat itu kami selalu berpuasa 'Asyura dan kami jadikan anak-anak kecil kami berpuasa 'Asyura. Kami membuatkan mainan boneka untuk mereka dari bulu domba. Jika salah seorang di antara mereka menangis karena lapar, maka kami berikan keoadanya mainan itu, begitulah sampai datangnya waktu berbuka." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sejarah Puasa Tasu'a

Jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf berpendapat bahwa hari ‘Asyura adalah hari ke-10 di bulan Muharram. sedangkan tanggal sembilan Muharram disebut Tasu'a.

Dari Abdillah bin Abbas Ra berkata : "Ketika Rasulullah SAW. melakukan puasa 'Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa 'Asyura, maka para sahabat berkata: "Wahai Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani." Maka beliau bersabda, Jika begitu, pada tahun mendatang kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan, Insya Allah." Ternyata tahun berikutnya belum datang, Rasulullah SAW telah wafat." (HR. Muslim No. 1134).

Pada hari inilah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam semasa hidupnya melaksanakan puasa ‘Asyura. Dan kurang lebih setahun sebelum wafatnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ َلأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ

“Jikalau masih ada umurku tahun depan, aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”
                                               
Para ulama berpendapat perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam , “…aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”, mengandung kemungkinan beliau ingin memindahkan puasa tanggal 10 ke tanggal 9 Muharram dan beliau ingin menggabungkan keduanya dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura. Tapi ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ternyata wafat sebelum itu maka yang paling selamat adalah puasa pada kedua hari tersebut sekaligus, tanggal 9 dan 10 Muharram.

Imam Asy-Syaukani dan Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan puasa ‘Asyura ada tiga tingkatan. Yang pertama puasa di hari ke 10 saja, tingkatan kedua puasa di hari ke 9 dan ke 10 dan tingkatan ketiga puasa di hari 9,10 dan 11.

-----------------------------------------------------------------------------------

“Jangan sampai kita kalah 3 kali”

Puasa Asyura telah dilakukan oleh orang-orang Quraisy jaman Jahiliyah, sehingga orang-orang jahiliyahpun melaksanakan puasa pada tanggal 10 Muharram. Kenapa kita tidak ? Demikian juga dengan bangsa Yahudi di Madinah juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Kenapa kita tidak ? semua dari anak-anak sampai yang dewasa disunahkan melakukan puasa pada 10 Muharram. Kenapa kita tidak ?

-----------------------------------------------------------------------------------
  

Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu


Rasulullah saw.  menjelaskan bahwa puasa pada hari 'Asyura  menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah berlalu.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَن صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ



Dari Abu Qatadah ra. Rasululllah rditanya tentang puasa hari 'asyura, beliau bersabda: "Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat."  (HR. Muslim).

Keutamaan puasa ‘Asyura 


Di masa hidupnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam berpuasa di hari ‘Asyura. Kebiasaan ini bahkan sudah dilakukan beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam sejak sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dan terus berlangsung sampai akhir hayatnya.

Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَومَ فَضْلِهِ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا اليَوْمِ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهذَا الشَّهْرُ يَعْنِي شَهْرُ رَمَضَانَ

“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”.

Hal ini menandakan akan keutamaan besar yang terkandung pada puasa di hari ini.
Selamat melaksanakan puasa Tasu'a dan 'Asyura.

___________________________

Powered by: Blogger

"MENGABDI UNTUK BERBAKTI"

SOFTWARE ISLAMI

Program Ilmu Tajwid berbasis flash

download

Program Ensiklopedi Hadits 9 Imam (cuma sampel, yang asli silahkan beli :D )

download

Program Al-Quran in Microsoft Word

download

Quran Auto Reciter (Program Pembaca al-Quran dan Sekaligus Menampilkan Tulisan)

download

Hadits Web 3.0 (Al-quran & Terjemah, shahih Bukhari & Muslim, Hadits Arbain, Artikel Hadits)

download

MP3 ISLAMI / BERMANFAAT

Menghafal Surat Al-Fatihah bagi Anak dan Balita

download

Menghafal Surat Al-Ikhlash bagi Anak dan Balita

download

Menghafal Surat Al-Falaq bagi Anak dan Balita

download

Menghafal Surat An-Nas bagi Anak dan Balita

download

Bacaan Surat Al-Ahqaf by Muh. Thoha Al-Junaid

download

Bacaan Surat An-Naba' by Muh. Thoha Al-Junaid

download

Bacaan Surat Al-Muzammil by Ahmad Saud

download

MP3 Motivasi Andri Wongso: Dengan Ketekunan Batangan Besi Pun Bisa Jadi Jarum

download