Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Rabu, 04 Maret 2015

Kitab Nahwu Jurumiyah

Pengarang Kitab Matan Jurumiyah dalam Ilmu Nahwu ini adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash-Shanhaji An-Nahwi yg terkenal dengan sebutan Ibnu Aajurruum, Aajurruum adalah bahasa ajam yg artinya seorang yg Faqir  Sufi nan Waro’. 
Beliau adalah salah satu Imam Nahwu yg dilahirkan pada tahun 674 H. dan wafat pada tahun 723 H. Nafa’anaallaahu bihi bi ‘uluumihi fid-daaroini Aamiin.

I.  BAB KALAM
1. Definisi Kalam
2. Pembagian Kalam
3. Tanda Kalimat Isim
4. Huruf-huruf Khofadh/Huruf Jar
5. Tanda Kalimat Fi’il
6. Tanda Kalimat Huruf

II. BAB I’ROB
1. Definisi I’rob
2. Pembagian I’rob

III.  BAB TANDA-TANDA I’RAB
1. Tanda I’rab Rofa
2. Tanda I’rab Nashab
3. Tanda I’rab Khafadh/Jarr

4. Tanda I’rab Jazem

Senin, 02 Maret 2015

Haul Nyai Hj. Dra. Yustiningsih Bunandar

Sabtu, 28 Februari dan Ahad, 1 Maret 2015 dilaksanakan Semaan Al-Quran dalam rangka Haul Dra. Hj. Yustiningsih (Nyai Bunandar), di Condronegaran Gedongkiwo Yogyakarta. Semaan Al-Quran dilaksanakan Sabtu malam Ahad, 28 Februari 2015 di Ponpes Al-Islam oleh Bu Nyai Nurul Isnaini.yang disimak oleh para santri putra dan putri. Kemudian pada Ba'da Subuh, Ahad, 1 Maret 2015 Semaan Santri putra di Gedongkiwo, dan Santri putri melaksanakan semaan Al Quran di Komplek Masjid Agung Condronegaran.

Ba'da shalat Asyar dilaksanakan pembacaan Yasin dan Tahlil di Condronegaran (rumah Nyai Hj. Bunandar) diikuti oleh masyarakat Gedongkiwo. Selanjutnya pada malam harinya, Ahad Wage malam Senin Kliwon setelah shalat Isya dilaksanakan pembacaan Asmaul Husna, Istighasah, Tahlil dan Khatmil Quran di Masjid Agung Condronegaran yang diikuti oleh segenap keluarga serta Jamaah Masjelis Ta'lim Ahad Wage, masyarakat Gedongkiwo dan sekitarnya. Pada kesempatan itu Abah Hana bin Bunandar menyampaiakan bahwa Semaan Al Quran setiap Ahad Wage telah dirintis oleh KH Drs. Achmad Bunandar dan Nyai Hj. Yustiningsih sejak pertengahan tahun 80-an. Dan Alhamdulillah sampai saat ini tetap dilaksanakan Insya Allah Istiqamah. Aamiin.
Abah Hana bin Bunandar juga menyampaiakan apa yang menjadi kewajiban seorang anak terhadap orangtuanya. ...


Sabtu, 07 Februari 2015

Program Beasiswa Tahfizh Al-Quran (PBTQ) Kemenag RI Dibuka Mulai 1 Maret 2015

Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren kembali membuka Program Beasiswa Tahfizh Al-Quran (PBTQ). Seleksi peserta program beasiswa ini dibuka mulai 1 Maret – 22 April 2015.

Kementerian Agama telah menetapkan beberapa program prioritas di tahun 2015. Salah satunya adalah pengembangan kemampuan santri dalam bidang Al-Quran.

Sehubungan itu, Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren bekerja sama dengan Yayasan Pusat Persatuan Kebudayaan Islam Indonesia/United Islamic Cultural Centre of Indonesia-Turkey (UICCI) kembali memberikan beasiswa bagi para penghafal Al-Quran melalui program Beasiswa Tahfizh Al-Quran (PBTQ) Tahun 2015.

PBTQ dilaksanakan dalam bentuk pemberian beasiswa pendidikan bagi peserta yang lulus seleksi untuk mengikuti program pendidikan non degree di Indonesia dan di Turki.

Berdasarkan pengumuman yang diterima Pinmas, Jumat (06/02), peserta yang lulus seleksi dan mengikuti program ini akan mendapat  fasilitas berbentuk layanan pendidikan, termasuk akomodasi dan konsumsi selama mengikuti pendidikan yang ditanggung oleh UICCI. Selain itu, peserta yang lolos seleksi juga akan mendapatkan transport keberangkatan dan kepulangan untuk mengikuti layanan pendidkan di Turki yang ditanggung oleh Kementerian Agama.

Pendaftaran PBTQ ini  dimulai pada 1 Maret – 22 April 2015 di Kantor Wilayah Kemenag Provinsi. Untuk info selengkapnya, silahkan download pengumuman tntang seleksi calon peserta program beasiswa tahfidz Al Qur'an tahun 2015 dari situs Kemenag RI.

Minggu, 01 Februari 2015

Assayyid Prof. Dr. Muhammad bin Sayyid ‘Alwi bin Sayyid ‘Abbas

Assayyid Prof. Dr. Muhammad bin Sayyid ‘Alwi bin Sayyid ‘Abbas bin Sayyid ‘Abdul ‘Aziz Al-Maliki Al-Hasani Al-Makki (M A K K A H)
Beliau adalah Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani. Beliau lahir di Mekkah pada tahun 1365 H. putra dari ulama besar yang mengajar di Masjidil Haram, Sayyid Alawi Abbas al-Maliki. Tidak di sangsikan lagi, beliau masih keturunan Rasulallah dan nasab beliau masih terkait dengan Sayyidina Hasan, cucu Rasulallah.
Kecerdasan Sayyid Mahammad Alawi sudah ketara mulai masih kecil. Sudah dapat menghafal al-Qur’an ketika masih berusia 7 tahun dan sudah menghafal kitab hadits al-Muwaththa karya Imam Malik saat beliau berumur 15 tahun. Dan pada saat beliau berumur 25 tahun, beliau meraih gelar doktor ilmu hadits dengan predikat mumtaz (excellent) di bawah bimbingan ulama besar Mesir, Prof. Dr. Muhammad Abu Zahrah. Rihlah ilmiyyah beliau cukup panjang dan luas di bawah bimbingan ulama-ulama shalihin yang amilin.
Usia ke-26, beliau di kukuhkan sebagai guru besar ilmu hadits pada Universitas Ummul Qura, Makkah, Arab Saudi. Dan pada tanggal 2 Shafar 1421/ 6 Mei 2000 beliau di anugrahi gelar ustadziyyah atau professor dari Universitas al-Azhar asy-Syarif Kairo Mesir. Dan ini semua adalah prestasi luar biasa dan kebanggaan bagi pendudukk Kerajaan Arab Saudi, yang memang layak di capai putra ulama besar se keliber Sayyid Alawi al-Maliki.
Pada tahun 1974, setahun setelah ayahandanya wafat, Sayyid Muhammad Alawi membuka pesantrennya di Utaibiyyah bersama dengan adik kandungnya, Sayyid Abbas. Namun pesantren tersebut akhirnya di pindah ke kawasan yang lebih luas tapi agak jauh dari Masjidil Haram, di pinggiran selatan kota Makkah di daerah Rusyaifah, yang kemudian di beri nama jalan al-Maliki.
Sebagai ulama besar, perjalanan hidupnya juga di penuhi onak dan duri ujian hidup seperti jejak ulama-ulama shalih pendahulunya. Pada tahun 80-an terjadi perselisihan antara beliau dengan beberapa ulama Wahhabi yang di sokong oleh Kerajaan Arab Saudi. Beliau di tuduh sesat, penyebar bid’ah dan khurafat. Beliau kemudian di kucilkan, hingga pernah mengungsi ke Madinah selama bulan Ramadhan.
Perselisihan tersebut semakin meruncing, namun akhirnya berhasil di cari jalan tengah dengan melakukan dialog atas rekomendasi atau saran dari Mufti Wahhabi yang kebetulan berseberangan pemikiran dan sangat membenci Sayyid Muhammad Alawi, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Baz . Dalam dialognya, Sayyid Muhammad Alawi beradu argumen dengan kuat saat berhadapan dengan ulama mantan Hakim Agung Arab Saudi, Syaikh Abdullah bin Mani’.
Dalam dialog atau perdebatan dengan ulama Wahhabi yang di tayangkan TV setempat di menangkan oleh Sayyid Muhammad Alawi dan beliau kian mendapat simpati. Konon, diam-diam keluarga Kerajaan Arab Saudi pun sebenarnya berpihak pada Sayyid Muhammad Alawi, namun takut jika di ketahui mayoritas penganut Wahhabi.
Syaikh Abdullah bin Mani’ kemudian menerbitkan catatan dialognya dalam bentuk kitab yang di beri judul Hiwar Ma’a al-Maliki Liraddi Munkaratihi wa Dhalalatihi (Dialog dengan al-Maliki untuk menolak kemungkaran dan kesesatannya), sebuah kitab yang sekarang di ‘gandrungi’ dan di jadikan referensi penganut Wahhabi di Indonesia untuk mencabik-cabik Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dan pengiku-pengikutnya, terutama dari keluarga Pondok Pesantren Wahhabi, Al-Furqon, Sedayu Gresik Jatim.
Sayyid Muhammad kemudian juga menerbitkan kitab terkenalnya, Mafahim Yajibu an Tushahhah (Faham-Faham Yang Harus Di Luruskan). Kitab beliau ini mendapat sambuatan dan pengakuan luar biasa dari ulama-ulama besar di seluruh pelosok penjuru dunia. Lebih dari 40 ulama besar dunia ikut memberikan kata sambutan pada kitab tersebut. Selain dari pada itu, ulama-ulama Mesir, Tunisia, Kuwait dan sebagainya telah membuat pembelaan terhadap Sayyid Muhammad baik dengan tulisan maupun lisan. Kitab populer tersebut kemudian menjadi andalan segenap pengikut Ahlussunnah dalam mempertahankan pluralitas aliran di Tanah Suci Mekkah.
Namun ulama Wahhabi ternyata tidak berhenti begitu saja. Setelah Sayyid Muhammad Alawi menerbitkan kitabnya, Mafahim, ulama Wahhabi lain yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama Arab Saudi, Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh menulis kitab yang menghantam pemikiran Sayyid Muhammad Alawi tersebut dengan judul Hadzihi Mafahimuna (Ini adalah Faham-Faham Kami) . Kitab ini juga menjadi referensi utama kelompok Wahhabi di Indonesia. Di Pondok Pesantren Wahhabi al-Furqan Sedayu Gresik, di terbitkan buku yang tidak selayaknya di tulis dengan judul Mengenal Lebih Dekat ‘Syaikh’nya Nahdhatul Ulama, sebuah buku yang mengkritik dan menjelek-jelekkan keturunan Rasulallah Saw, yaitu Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dan sangat melukai hati warga Nahdhiyyin.
Kemudian, sebagai ulama yang ikhlas dan selalu berharap ridha dari Allah, Sayyid Muhammad Alawi pun mengajak kembali berdialog untuk mempersatukan persepsi dan pemahaman, namun ajakan tersebut tak tersambut. Hanya selang 10 tahun berikutnya, di laksanakan dialog Nasional ke-2 di Makkah Mukarramah tepat pada tanggal 5-9 Dzul Qa’dah 1424 H. yang di prakarsai oleh Amir Abdullah bin Abdul Aziz. Dialog tersebut di adakan untuk mencari solusi tepat pasca terjadinya serangan pengeboman oleh kelompok teroris di Riyadh yang di sinyalir akibat dari buah melegalkan ektrimisme takfir dari kelompok-kelompok yang menisbatkan dirinya Salafiyyah. Meski di anggap terlambat oleh Sayyid Muhammad Alawi, namun beliau tetap menyambut gembira ajakan di alog tersebut.
Prilaku dzalim lain yang dialami Sayyid Muhammad Alawi adalah beliau pernah di keluarkan dari mengajar di Masjidil Haram oleh kelompok-kelompok Wahhabi. Namun semua itu di hadapi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Dan setelah di keluarkan dari mengajar di Masjidil Haram tersebut, beliau mengajar di kediaman beliau di jalan Alawi, Rushaifah, Makkah.
Selain beliau adalah ulama panutan segenap muslimin ahlussunnah wal jama’ah, beliau juga aktif di bidang dakwah yang di gelar Rabithah Alam al-Islami (Liga Dunia Islam) dan Muktamar Alam Islami (Organisasi Konferensi Islam atau OKI). Beliau juga termasuk salah satu ulama Islam yang aktif dan produktif dalam hal menulis kitab dalam berbagai tema, baik yang bermuatan da’wah, hadits, nasehat, sirah Nabawiyyah dan lain-lain. Berikut adalah daftar kitab-kitab yang di tulis oleh beliau:
1. Al-Dzakhair al-Muhammadiyyah
2. Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar
3. Fadl al-Muwaththa’ wa ‘inayah al-Ummah al-Islamiyyah bih
4. Al-Insan al-Kamil
5. Al-Manhal al-Lathif fi Mushthalah al-Hadits
6. Al-Qawaid al-Asasiyyah fi Mushthalah al-Hadits
7. Al-Qawaid al-Asasiyyah fi Ulum al-Qur’an
8. Al-Hajj
9. Al-Muslimun Baina al-Waqi’ wa al-Tajribah
10. Al-Musytasyriqun Baina al-Inshaf wa al-‘Ashabiyyah
11. Wahuwa fi al Ufuq al-A’la
12. Al-Anwar al-Bahiyyah
13. Nidham al-Usrah
14. Labaik Allahumma Labaik
15. Haula Khashaish al-Qur’an
16. Zubdah al-Itqan fi Ulum al-Qur’an
17. Qul Hadzihi Sabili
18. Fi Sabili al-Hadyi wa Rasyad
19. Fi Rihabi Bait al-Haram
20. Kasyf al-Ghummah
21. Al-Qudwah al-Hasanah
22. Mafhum at-Thathawwur wa at-Tajdid fi as-Syari’ah al-Islamiyyah
23. Haula al-Ihtifal bi al-Maulid an-Nabawi
24. Al-Ziarah an-Nabawiyyah
25. Khashaish al-Ummah al-Muhammadiyyah
26. At-Tahdzir min al-Mujazafah bi at-Takfir
27. Adzkar Nabawiyyah wa Ad’iyyah Salafiyyah.
28. Al-Hushun al-Mani’ah
29. Dzakariyyat wa Munasabat
30. Ad-Da’wah al-Ishlahiyyah
31. Tarikh al-Hawadits wa al-Ahwal an-Nabawiyyah
32. Mukhtashar Sirah ar-Rasul
33. Syari’ah Allah al-Khalidah
34. Syarah Mandlumah al-Waraqat fi Ushul al-Fiqh
35. Fath al-Qarib al-Mujib ‘ala Tahdzib at-Targhib wa at-Tarhib
36. Ma La ‘Ainun Ra’at
37. Anwar al-Masalik
38. Waqi’iyyat at-Tarbiyah al-Islamiyyah
39. Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyyah
40. Al-Muwaththa’ bi Riwayat Ibn al-Qasim
41. Mafahim Yajib an Tushahhah
42. At-Thali’ as-Sa’id
43. Huwa Allah
44. Abwab al-Faraj
45. Manhaj as-Salaf fi Fahm an-Nushush
46. Al-Ghuluw (makalah pada debat Nasional ke-2 di Makkah Mukarramah)
Banyak orang yang menyebut Sayyid Muhammad Alawi sebagai al-allamah (seorang yang sangat mengetahui ilmu agama) atau ulama besar. Bahkan, Syaikh Muhammad Sulaiman Faraj, seorang ulama Makkah, menyebutnya al-arif billah (wali). Beliau juga sering di sebut dengan julukan ‘Al-Muwaththa’ berjalan’ kerena beliau hafal kitab al-Muwaththa’ Imam Malik sejak umur 15 tahun.
Akhlak beliau juga patut di tiru oleh segenap muslimin. Di tengah derasnya cacian, hinaan, pengkafiran, hujatan dan pensesatan dari ulama Wahhabi dan pengikutnya, beliau dengan tetap sabar dan tegar menerimanya, bahkan tak satupun kata beliau menghina balik terhadap musuh-musuhnya yang amat kejam dan tidak bertata krama Islam sama sekali, baik lewat lisan atau tulisan. Lihatlah kitab Mafahim Yajibu an Tushahah yang dengan hati ikhlas dan mengharap ridha dari Allah, beliau dengan santun dan tak satupun mencantumkan tulisan yang berbau menghina seseorang. Bahkan dalam mukaddimahnya, beliau menulis “Kami berlindung kepada Allah dari apabila kami termasuk dari orang-orang yang belajar ilmu karena tujuan beredebat dengan sombong atau mujadalah, sebagaimana sabda Rasulallah Saw. “Barang siapa mencari ilmu yang ilmunya akan di gunakan untuk mendebat orang-orang bodoh dengan sombong atau menyombongi ulama atau supaya orang-orang datang berduyun-duyun kepadanya, niscaya Allah akan memasukkan dia ke neraka” (HR. at-Tirmidzi dan lain-lain). Dan kitabku ini sama dengan kitab-kitab lain yang menerima untuk di perbaiki dan di murajaah kembali. Dan aku –dengan anugrah dari Allah– mengakui hal itu di setiap karya-karyaku yang sudah aku tulis. Dan aku juga menulis di setiap akhir tulisan kitabku (sungguh aku memohon taufiq dan kebenaran dari Allah dalam setiap yang aku tulis. Apabila isinya benar, maka itu semata-mata dari Allah, dan jika salah, maka itu dari aku pribadi dan ijtihadku. Dan aku berharap dari setiap orang yang melihat tulisanku untuk memberikan petunjuk (irsyad) dan menunjukkan kesalahan-kesalahku)” Sungguh sebuah sikap tawadhu’, inshaf dan penuh keikhlasan yang di tunjukkan ulama besar panutan Islam. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Semoga Allah meridhainya!
Beliau wafat tepat pada hari Jum’at yang barakah, tanggal 15 Ramadhan 1425 H. dan di makamkan di Jannataul Ma’la dekat dengan makam Sayyidah Khadijah al-Kubra, istri Rasulallah.
Dan alhamdulillah, sebelum beliau wafat, Allah telah memperlihatkan kejayaan dakwah dan tarbiyah beliau dengan lunturnya sedikit demi sedikit faham ekstrim Wahhabi dan beliau mendapat pengakuan yang selayaknya dari Kerajaan Saudi.
===========
original source : by Mbah Jenggot
http://www.facebook.com/note.php?note_id=387372383099%D8%B3
http://santri.net/biografi-ulama/assayyid-prof-dr-muhammad-bin-sayyid-alwi-bin-sayyid-abbas/

Minggu, 18 Januari 2015

Sang Penakluk

Khalifah Muhammad Al Fatih 

Anda harus saksikan : 

Khalifah Muhammad Al-Fatih 

Catatan : 




  • "Konstantinopel akan ditaklukkan oleh tentara Islam. Rajanya adalah sebaik-baik raja & tentaranya adalah sebaik-baik tentara"

  • "Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, "bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba beliau SAW ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, "Kota Heraklius terlebih dahulu (Konstantinopel)"

  • "Aku mendengar baginda Rasulullah S.A.W mengatakan seorang lelaki soleh akan dikuburkan di bawah tembok tersebut & aku juga ingin mendengar derapan tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentara seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda" (Abu Ayyub al-Anshari ra. kepada panglima Bani Umayyah).


Sultan Mehmed II atau juga dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih (bahasa Turki Ottoman: محمد ثانى Meḥmed-i sānī, bahasa Turki: II. Mehmet, juga dikenal sebagai el-Fatih (الفاتح), "sang Penakluk", dalam bahasa Turki Usmani, atau, Fatih Sultan Mehmet dalam bahasa Turki; 30 Maret 14323 Mei 1481) merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur. Mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika & menguasai 6 bahasa saat berumur 21 tahun. Dari sudut pandang Islam, ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu' setelah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di 'Ain Al-Jalut melawan tentara Mongol).


Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepimpinannya serta taktik & strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah pemilihan tenteranya. Ia merupakan anak didik Syekh Syamsuddin yang masih merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq.


Ia jugalah yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhannya). Kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. Untuk memperingati jasanya, Masjid Al Fatih telah dibangun di sebelah makamnya.


Diceritakan bahwa tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan salat wajib sejak baligh & separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan salat tahajjud sejak baligh. Hanya Sulthan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan salat wajib, tahajud & rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya.



Saudaraku ...

Mari  instropeksi diri kita, para guru dalam mendidik, tidak hanya transfer ilmu saja.

Anak didik (siswa) adalah anak kita, masa depan kita.

Didiklah anakmu karena anakmu akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu.



Apakah seperti gurunya Muhammad Al Fatih !!!

Sabtu, 10 Januari 2015

Hal-hal yang disyariatkan Dalam Aqiqah:

A. Yang berhubungan dengan sang anak
Disunatkan untuk memberi nama dan mencukur rambut pada hari ke tujuh sejak lahirnya. Perhitungan hari yang ke tujuh adalah berdasarkan hitungan bulan Qamariyah. Sedang perhitungan bulan Qamariyah itu perubahan tanggalnya dimulai dari terbenam matahari (maghrib), bukan jam 00.00 (sehabis jam 24.00 / 12 malam).
Contoh:
Bila seoarang anak lahir pada hari Senin jam 16.00 (4 sore), maka hari Senin itu dihitung hari pertama. ‘Aqiqahnya dilaksanakan pada hari Ahad.
Sedang bila lahir hari Senin jam 19.00 (7 malam), maka hitugan hari pertamanya dihitung hari Selasa. Pelaksanaan ‘Aqiqahnya pada hari Senin.

Bagi anak lai-laki disunatkan ber’aqiqah dengan dua ekor kambing sedang bagi anak perempuan seekor.

Syariat ‘aqiqah ini terutama dibebankan kepada orangtua si anak, tetapi boleh juga dilakukan oleh keluarga yang lain (kakek dan sebagainya).

  • “Telah berkata ‘Aisyah: Rasulullah SAW. Pernah ber’aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke tujuh dari kelahirannya.” (HR. Ibnu Hibban, Hakim dan Baihaqi).
  • Telah berkata Samurah, telah bersabda Nabi SAW. : Tiap-tiap anak itu tergantung dengan ‘aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ke tujuh, dan di hari itu hendaklah ia diberi nama serta dicukur rambut kepalanya” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Baihaqi dan Hakim).
  • “Sesungguhnya Rasulullah SAW. Telah memerintahkan agar para shahabat menyembelih sebagai ‘aqiqah bagi anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu ekor kambing”. (HR. Tirmidzi).
B. Yang berhubungan dengan binatang sembelihan:
Keadaan binatang yang diperuntukkan ‘aqiqah sama dengan yang dipergunakan untuk Qurban. Hanya yang perlu diperhatikan dalam hal ini ialah bahwa dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa memandang apakah jantan atau betina, sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ummu Kurz sebagai berikut:
Laa Yadlurrukum dzukraanan kunna auinaatsaan. “Tidak menyusahkanmu baik kambing itu jantan maupun betina.”

Waktu penyembelihan yang dituntunkan oleh Nabi berdasar dalil shahih, ialah hari ke tujuh semenjak kelahiran anak tersebut.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lahir hari              : Rabu Legi, malem Kamis Pahing
Jam                        : 23.35 (11 malam)
Tanggal                 : 7 Januari 2015, (17 Rabbiul Awwal 1436 H)
Rabu, jam 23.35 maka hari pertama adalah hari Kamis. Pelaksanaan ‘Aqiqah adalah pada hari Rabu, 14 Januari 2015 (23 Rabbiul Awwal 1436 H).
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kamis, 08 Januari 2015

Ucapan Selamat Atas Kelahiran Bayi

Ada ucapan yang shahih, yaitu:
بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ لَكَ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ. وَيَرُدُّ عَلَيْهِ الْمُهَنَّأُ فَيَقُوْلُ: بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا، وَرَزَقَكَ اللهُ مِثْلَهُ، وَأَجْزَلَ ثَوَابَكَ
“Semoga Allah memberkahimu dalam anak yang diberikan kepadamu. Kamu pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa, serta kamu dikaruniai kebaikannya.”
Sedang orang yang diberi ucapan selamat membalas dengan mengucapkan: “Semoga Allah juga memberkahimu dan melimpahkan kebahagiaan untukmu. Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baik balasan, mengaruniakan kepadamu sepertinya dan melipat gandakan pahalamu.” (Al-Adzkar, karya An-Nawawi, hal. 349, dan Shahih Al-Adzkar lin Nawawi, oleh Salim Al-Hilali 2/713)

"MENGABDI UNTUK BERBAKTI"

___________________________

Powered by: Blogger