Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Haflah Khotmil Qur'an

Sabtu, 01 Februari 2014

GEMA "has come from our self"

Suatu hari seorang anak kecil dan ayahnya berjalan di sebuah gunung. Karena jalannya licin tiba-tiba anak itu tergelincir dan menjerit. “Ah… ah… ah,” Tetapi betapa kagetnya ia ketika terdengar ada suara di balik gunung, "Ah... ah... ah." Dengan penuh rasa ingin tahu ia kembali berteriak. “Hai siapa kau?”  Ia mendengar lagi suara di balik gunung. “Hai siapa kau?” Mendengar hal itu ia merasa dipermainkan. Dan dengan marah ia berteriak lagi. “Kau pengecut!”  Tetapi sekali lagi dari balik gunung terdengar suara balasan, “Kau pengecut!”.

Bingung dengan apa yang telah terjadi. Kemudian si anak kecil bertanya pada ayahnya, “Ayah sebenarnya apa yang terjadi? Siapa orang yang meniru ucapanku tadi? Kenapa aku tidak melihatnya?” Mendengar pertanyaan anak kecil tadi. Sang ayah lalu berkata. “Anakku, mari perhatikan ini!” :

Kemudian sang ayah berteriak sekuat tenaga pada gunung. “Aku mengagumimu!” Terdengarlah: “Aku mengagumimu!”. 

Sekali lagi ayahnya berteriak. “Kau adalah sang juara, lalu muncul lagi suara: “Kau adalah sang juara.”

Anak itu merasa terhera-heran tapi masih juga belum memahami.

Kemudian ayahnya menjelaskan,

“Anakku orang-orang menyebutnya gema. Tapi sesungguhnya ada makna lain dalam kehidupan kita ini. Ia akan mengembalikannya kepada kita apa saja yang sudah kita lakukan dan kita katakan. Hidup kita ini adalah refleksi dari tindakan kita.”

Ya, bila kita ingin mendapatkan lebih banyak ketulusan dan kasih sayang di dunia ini maka berikanlah ketulusan dan kasih sayang dari hati kita.
Bila kita ingin mendapatkan kebaikan dari orang lain maka berikanlah kebaikan dari diri kita. Hal ini berlaku pada siapa saja dan pada semua aspek kehidupan.
Hidup akan memberikan apa yang telah kita berikan padanya. Maka sebenarnya hidup ini bukan suatu kebetulan. Hidup adalah pantulan dari diri kita.

Renungkan. !

Jumat, 24 Januari 2014

Pelatihan Rajut

Santriwati PP Al Islam pelatihan ketrampilan Rajut benang, kegiatan perdana dilakukan pada 24 Januari 2014 bersama dengan Muslimat Kecamatan Matrijeron Yogyakarta di PP Al Islam dan dilaksanakan setiap hari Jum'at. Pelatihan di bimbing oleh Hj. Ririn dan Ibu Nur.

Menurut Pengasuh PP Al Islam dalam pengantar dan sambutannya menyatakan, kegiatan ini dalam rangka membekali santri dengan ketrampilan(soft skill), dengan mengambil pelajaran dari kisah umat terdahulu, bahwa Islam mewajibkan umatnya bekerja, mengendalikan dan mengoptimalkan daya pikir dan ketrampilan (jiwa dan raga). Insya Allah para santri memiliki bekal ilmu agama, ketrampilan, dan calon Juragan. Dalam kitab Ta'lim disebutkan "belajar dahulu, pandai, sehat, dan kaya".

Bagaimana dengan Nabi Dawud As. adalah tukang Tenun, membauat kain dan baju besi, Nabi Adam As. adalah seorang petani, Nabi Nuh As. adalah Tukang kayu, Nabi Idris As. adalah seorang penjahit pertama di dunia, Nabi Ibrahim As, adalah pedagang pakaian, Nabi Musa As. adalah penggembala, Nabi Muhammad SAW. adalah penggembala ternak suku Quraiys, dan bahkan Nabi Sulaiman As. biasa berkhutbah sambil membuat anyaman keranjang belanja dari janur atau kerajinan lainnya yang kalau sudah jadi kemudian di jual.

Sedangkan Ibu Hj. Ririn menyambut gembira dengan pelatihan ini bahkan akanberusaha memfasilitasi proses pelatihan ini lewat showroom dan koperasi yang telah ada, insya Allah bisa melaksanakan rukun Islam ke 5 (Haji) dengan ketrampilan rajut benang ini, Aamiin sambung para santriwati AL ISLAM.
 



Senin, 20 Januari 2014

Bekal Terindah bagi Perindu Husnul Khatimah

Judul kitab : Nashaih al-‘Ibad Syarh al-Munbbihat ‘ala al-Istimdad li Yaum al-Ma‘ad li Al-Imam Syihab ad-Din Ahmad ibn Hajar 

Penulis : Syaikh Muhammad An-Nawawi bin Umar Al-Jawi

Penerbit : Penerbit Maktabah Karya Thoha Putra, Semarang


“Ya Allah, muliakanlah umat Nabi Muhammad ini dengan semua anugerah-Mu di dunia dan akhirat sebagai bentuk penghormatan dari-Mu bagi mereka yang telah Engkau jadikan sebagai bagian dari umat Baginda Nabi SAW.”

Syaikh Nawawi bin Umar Al-Jawi, menjelaskan ungkapan Imam Ibnu Hajar RA, berkata, “Imam Ibnu Hajar RA berkata, ‘Telah mengijazahkan kepadaku Sayyidi As-Sayyid Ahmad Al-Mirshafi Al-Mishri se­telah sebelumnya aku diijazahi oleh guru­ku, Sayyidi As-Sayyid Abdul Wah­hab bin Ahmad Farhat Asy-Syafi`i, dari masyayikh mereka, secara musalsal bil awwaliyah, sampai kepada Abdullah bin Umar bin Ash` dari Nabi SAW, bahwa be­liau, Sayyi­dul Akhlaq wal Khalaiq (Penghulu sekalian Akhlaq Mulia dan se­kalian Makhluk), SAW bersabda, ‘Orang-orang yang hatinya pe­nuh kasih sayang disayangi oleh Yang Maha Pemilik kasih sayang Tabaraka wa Ta`ala. Maka sa­yangi dan kasihilah siapa pun yang ada di muka bumi, niscaya kalian akan di­sayangi dan dikasihi oleh siapa pun yang ada di langit.’”
Imam Ali bin Abi Thalib RA berkata, “Jadilah engkau di sisi Allah sebaik-baik manusia dan jadilah engkau dalam pan­dangan nafsu seburuk-buruk manusia dan jadilah engkau seseorang di antara manusia.”
Makna ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib, “Jadilah engkau di sisi Allah se­baik-baik manusia dan jadilah engkau da­lam pandangan nafsu seburuk-buruk ma­nusia”, janganlah pernah merasa me­miliki kemuliaan yang membuatmu me­rasa lebih baik dari orang lain.
Makna ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, qad­dasallahu sirrahu. Beliau berkata, “Apa­bila bertemu dengan seseorang, hen­dak­lah engkau melihatnya lebih mulia atas dirimu dan engkau katakan, ‘Tentu ia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya dariku di sisi Allah SWT.’
Bila yang engkau jumpai adalah se­orang anak yang masih belia usianya, ka­takanlah, ‘Anak ini sungguh belum ber­buat durhaka kepada Allah SWT sedang aku sungguh teramat banyak berbuat durhaka dan kemaksiatan kepada-Nya. Sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku.’ Dan bila yang engkau jumpai ada­lah seseorang yang sudah berumur, kata­kanlah, ‘Sungguh orang ini lebih dahulu ber­ibadah kepada Allah SWT jauh sebe­lum aku, (maka sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku).’
Bila yang engkau jumpai adalah se­orang yang alim berilmu, katakanlah, ‘Sungguh orang ini telah dianugerahi se­suatu yang belum diberikan kepadaku, telah sampai kepada pengetahuan yang aku belum mengetahuinya, telah menge­tahui berbagai sesuatu yang belum aku ketahui, dan ia beramal dengan ilmunya, (sedang aku beramal dengan kebodoh­anku, maka sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku).’
Bila yang engkau jumpai adalah se­orang yang bodoh, tidak berilmu, kata­kanlah, ‘Sungguh orang ini, bilapun ber­buat dosa, ia berbuat dosa dengan ke­bodohannya, sedangkan aku berbuat dosa dengan ilmuku, dan sungguh aku tidak tahu bagaimana keadaannya di saat-saat kematian datang menjemput dan tidak tahu pula bagaimana diriku di saat-saat kematian menjemput diriku nantinya.’
Bila yang engkau jumpai adalah se­orang yang kafir, katakanlah, ‘Sungguh aku tidak tahu, boleh jadi kelak ia akan mati dengan husnul khatimah dan amal yang baik sedang aku boleh jadi pula akan menjadi kafir dan mati dalam ke­adaan su’ul khatimah — na`udzu billahi min dzalik (Sehingga, bila demikian adanya, sungguh tiada diragukan bila ia akan lebih baik dariku)’.”
Adapun ungkapan beliau, “…dan jadi­lah engkau seseorang di antara ma­nusia”, maknanya adalah bahwa se­sung­guhnya Allah SWT membenci me­lihat seorang hamba yang membeda-beda­kan diri dari orang lain, sebagai­mana dijelas­kan dalam hadits Nabi SAW.
Itulah sebabnya, sebagian ulama ba­nyak mendawamkan doa ini dalam mu­najat mereka.
Allaahummaj‘alnii shabuuraa waj‘alni syakuuraa waj‘alni fi ‘ainii shaghiiraa wa fii a‘yuninnasi kabiiraa.
“Ya Allah, jadikanlah hambamu ini se­orang yang sabar, dan jadikanlah daku seorang hamba yang senantiasa bersyu­kur atas segala karunia-Mu. Jadi­kanlah daku seorang hamba yang se­nantiasa merasa kecil dalam pandangan mataku dan besar dalam pandangan manusia.”

Maknanya, orang-orang yang hati­nya penuh dengan sifat-sifat kasih sayang dan belas kasih terhadap siapa pun yang ada di atas permukaan bumi, baik dari kalangan anak Adam bahkan juga hewan, selain hewan-hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya, de­ngan berbuat kebaikan terhadap mere­ka, niscaya Yang Maha Rahman akan mengasihi dan mencintainya. Karena itulah sayangi dan belas kasihilah siapa pun yang dapat engkau sayangi dari ber­bagai macam dan jenis makhluk Allah SWT, bahkan yang tidak memiliki akal sekalipun, dengan memberikan kasih sayang, berbuat baik kepada mereka, dan banyak mendoakan mereka dengan doa rahmat dan ampunan, niscaya kali­an akan disayangi dan dikasihi oleh para malaikat dan Dia, Yang rahmat-Nya me­li­puti bagi seluruh penduduk langit, yang jumlah mereka jauh lebih besar dari jumlah penduduk bumi.
Seorang shalihin bermimpi bertemu Imam Al-Ghazali. Imam Al-Ghazali pun ditanya, “Apa yang Allah SWT perbuat padamu?”
Imam Al-Ghazali menjawab, “Aku dibawa dan dihadapkan di hadapan-Nya kemudian Allah SWT berfirman kepada­ku, ‘Dengan bekal apa engkau mengha­dap-Ku?’
Maka aku pun mulai menyebutkan amal-amalku.
Lalu Allah SWT berfirman, ‘Aku tidak menerimanya. Sesungguhnya yang Aku terima darimu adalah saat suatu hari se­ekor lalat singgah di atas tempat tintamu untuk minum darinya di saat engkau te­ngah menulis. Kemudian engkau tidak me­lanjutkan menulis sampai lalat itu ke­nyang menghirup darinya karena eng­kau berbelas kasih terhadapnya.’
Kemudian Allah SWT berfirman, ‘Wa­hai para malaikat-Ku, bawalah ham­baku ini dan hantarkan ia ke dalam surga’.”
Teramat mahalnya nilai kasih sayang ini, bahkan Syaikh Nawawi menegas­kan, dan di antara sebab yang menda­tang­kan husnul khatimah di antaranya adalah mendawamkan doa berikut ini:
Allaahumma akrim hadzihil-ummatal muhammadiyyah bi jamiili ‘awa-idika fid-daarain ikraaman liman ja‘altahaa min ummatihi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam.
“Ya Allah, muliakanlah umat Nabi Muhammad ini dengan semua anuge­rah-Mu di dunia dan akhirat sebagai ben­tuk penghormatan dari-Mu bagi mereka yang telah Engkau jadikan sebagai bagian dari umat Baginda Nabi SAW.”

Di antaranya pula mendawamkan doa berikut ini di antara sunnah Subuh dan fardhunya:
Allaahummaghfir li ummati sayyi­dinaa Muhammad. Allaahummarham ummata sayyidinaa muhaamad. Allaahummastur ummata sayyidinaa Muhammad. Allaah­um­majbur ummata sayyidinaa Muhammad. Allaahumma ashlih ummata sayyidinaa Muhammad. Allahumma ‘aafi ummata sayyidina Muhammad. Allahum­mahfazh ummata sayyidinaa Muham­mad. Allahummarham ummata sayyidi­naa Muhammad rahmatan ‘aammah ya rabbal‘aalamiin. Allaahummaghfir li um­mati sayyidinaa muhmmad maghfiratan ‘aammah ya rabbal‘aalamiin. Allaahum­ma farrij ‘an ummati sayyidinaa muham­mad farajan ‘aajilan ya rabbal ‘aalamiin.
“Ya Allah, ampunilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, rahmatilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, tutupilah (segala aib dan cela) umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, tamballah (segala kekuarangan) umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, perbaikilah (keadaan) umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, sehatkan dan sejahterakanlah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, peliharalah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, rahmatilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad, dengan rahmat yang menyeluruh, wahai Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, ampunilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad, dengan ampunan yang menyeluruh, wahai Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, berikanlah kelapangan bagi umat penghulu kami, Nabi Muhammad, kelapangan yang segera tiada tertunda, wahai Tuhan seru sekalian alam.”

Juga dengan mendawamkan doa berikut ini:
Ya rabba kulli syai’ biqudratika ‘alaa kulli syai’ ighfir lii kulla syai’ wa laa tasalnii ‘an kulli syai’ wa laa tuhaasibnii fii kulli syai’ wa a‘thinii kulla syai’.
“Wahai Tuhan segala sesuatu, de­ngan kekuasaan-Mu atas segala se­suatu, ampunilah aku atas segala se­suatu (dari kesalahan yang aku lakukan), jangan Engkau pertanyai aku tentang se­gala sesuatu (dari dosa dan kedurhaka­an yang aku perbuat), jangan Engkau hi­sab aku pada segala sesuatu (dari se­mua keburukan yang aku berani untuk me­lakukannya), dan karuniakanlah ke­padaku segala sesuatu (dari segala ke­baikan di dunia dan akhirat).”

Jumat, 17 Januari 2014

Macam Hukum

HukumAqly


HukumAqly ada tiga, yaitu:
1. Wajib, artinya perkara yang tidak boleh tidak akan adanya bagi ‘aqal fikiran.
2. Mustahil, artinya perkara yang tidak boleh tidak akan tiadanya bagi ‘aqal.
3. Jaiz, artinya perkara yang adanya dan tiadanya dapat diterima ‘aqal.
  

Hukum Syar’i


        Hukum syar’i ialah perintah Allah Ta’ala atas perbuatan mukallaf (yang diberatkan/ yang diberi tanggung jawab), maka disebut perintah yang memberatkan (taklif) disebut juga sebagai perintah yang jelas, sebab ditentukan syaratnya atau sebabnya.

Hukum syar’i ada tujuh, yaitu:
1. Wajib, artinya perkara yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan mendapat dosa.
2. Sunnah, artinya perkara yang jika dikerjakan mendapat pahala.
3. Haram, artinya perkara yang jika dikerjakan mendapat dosa dan jika ditinggalkan mendapat pahala.
4. Makruh, artinya perkara yang jika dikerjakan tidak mendapat dosa, tetapi perbuatan tersebut tidak disukai Allah dan jika ditinggalkan mendapat pahala.
5. Mubah, artinya “harus syar’i”, yaitu perkara yang jika dikerjakan ataupun ditinggalkan tiada mendapat dosa atau pahala.
6. Shahih (sah), artinya perkara yang lengkap segala syaratnya dan segala rukunnya.
7. Bathal, artinya perkara yang kurang syaratnya atau rukunnya.
  
Hukum ‘Ady (Adat/Kebiasaan)

           Hukum ‘ady artinya menetapkan suatu perkara bagi suatu hal, atau menetapkan suatu perkara pada suatu hal dengan alasan perkara tersebut berulang-ulang.
1. Pertambatan/penetapan keadaan suatu perkara dengan keadaan perkara lainnya. Misalnya keadaan kenyang dengan keadaan makan.
2. Penetapan ketiadaan suatu perkara dengan ketiadaan perkara lainnya. Misalnya ketiadaan kenyang dengan ketiadaan makan.
3. Penetapan keadaan suatu perkara dengan ketiadaan perkara lain. Misalnya keadaan dingin dengan ketiadaan selimut.
4.  Pentapan ketiadaan suatu perkara dengan keadaan suatu perkara lain. Misalnya ketiadaan hangus dengan adanya siraman air.

Sekarang anda telah mengetahui perbedaan wajib syar’i dengan wajib ‘aqly. Jika disebutkan wajib atas tiadp mukallaf maksudnya ialah wajib syar’i. Jika disebutkan wajib bagi Allah Ta’ala atau bagi Rasulullah, maka maksudnya ialah wajib ‘aqly. Jika dikatakan jaiz bagi mukallaf, maka maksudnya jaiz syar’i. Jika dikatakan jaiz bagi Allah Ta’ala, maka maksudnya adalah jaiz ‘aqly.

Yang wajib pada Allah ‘Azza wa Jalla dengan tafshil disebut sifat dua puluh, yang telah berdiri dalil ‘aqly dan naqly atasnya. Wajib atas tiap mukallaf mengetahui dengan ijmaly saja didalam perkataan (bersifat Allah Ta’ala dengan setiap sifat  kesempurnaan. Adapun yang mustahil pada Allah ‘Azza wa Jalla dengan tafshil ada 20 perkara, yaitu lawan dari dua puluh sifat yang wajib bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Yang mustahil pada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ijmaly yaitu yang ada di dalam perkataan “Maha Suci Allah dari dari setiap sifat kekurangan dan dari perkara yang terbayang (terbersit) di hati.”

Selasa, 14 Januari 2014

Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H

Kitab Bidayah Wannihah (Ibnu Katsir): ibnu katsir memuji amalan maulid khalifah sultan almuzaffar (saudara ipar shalhuddin al ayubi) yang buat maulid diseluruh negeri tiap tahunnya.

  • Senin, 12 rabiul awal : hari kelahiran nabi
Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya.


 عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم”


Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (H.R. Muslim, Abud Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).

  • 12 rabiul awal : Nabi tiba dimadinah dalam peristiwa isra mi’raj 

Sahabat Ansor berdiri Menyambut Nabi.
Sahabat memukul Rebana dan Syair:
“Thala’al badru ‘alayna – Mintsaniyatil wada’
Wajaba syukru ‘alaina — mada’a lilahi da’i

  • Pembacaan Burdah dalam acara Maulid 1435 H






Sabtu, 14 Desember 2013

Pengajian Akbar PP Al Islam (Haflah Tasyakur Lil Ikhtitam III)

Foto kegiatan Haflah Khatmil Qur'an III PP Al Islam Tahun 2013 M / 1435 H















Selasa, 10 Desember 2013

Seminar Motivasi Santri

Kang Kun memberikan motivasi meraih mimpi kepada santri al islam pada selasa, 10 Desember 2013 di aula pondok pesantren Al Islam Yogyakarta.
Menurut Muhammad Fariz Zulham kegiatan ini sebagai rangkaian kegiatan Haflah Tasyakur Lil Ihtitam ke III Pondok Pesantren Al Islam Yogyakarta

Jumat, 06 Desember 2013

Rangkaian Kegiatan Haflah Tasyakur Lil Ikhtitam III PP Al Islam Yogyakarta

Pondok Pesantren Al Islam Yogyakarta akan melaksanakan Haflah Tasyakur Lil Ikhtitam III besuk pada Rabu, 11 Desember 2013 di Komplek Masjid Agung Condronegaran Gedongkiwo Yogyakarta.

Berikut rangkaian acara dalam rangka Haflah Tasyakur Lil Ikhtitam III PP Al Islam Yogyakarta :
Sabtu, 7 Desember 2013
  • 20.00 - 22.00 Muqadaman dan Istighasah
Ahad, 8 Desember 2013
  • 07.00 - 11.00 Ziarah Maqbarah
Senin, 9 Desember 2013
  • 20.00 - 21.00 Mujahadah
Selasa, 10 Desember 2013 Semaan Al Qur'an
  • 13.00 - 15.00 Seminar Kesehatan dan Motivasi Santri Meraih Impian
Rabu, 11 Desember 2013 :
  • 13.00 - 15.00 Temu Wali Santri
  • 16.00 - 17.00 Pentas Seni Kreasi Santri
  • 19.30 - 20.30 Prosesi Wisuda Khatmil Qur'an : Juz Amma Bil Ghaib, 30 Juz Binnadzar, 5 Juz Bil Ghaib, dan 10 Juz Bil Ghaib
  • 20.30 - 21.00  Tahlil dan Doa oleh : KH. R. Najib Abdul Qadir
  • 21.00 - 21.30 Sambutan-sambutan
  • 21.30 - 22.00 Maulidur Rasul
  • 22.00 - 23.30 Pengajian Akbar oleh : KH Mahyan Ahamad

Selasa, 12 November 2013

“Jangan sampai kita kalah 3 kali”

Puasa Sunnah ‘Asyura Tanggal 9 dan 10 Bulan Muharram :Puasa Tasu'a dan 'Asyura


Alangkah indah dan mulia jika segala amal dilaksanakan dengan niat semata karena Allah, dan segala perbuatan amal tergantung pada niatnya. Maka bagus kalau kita telah berniat untuk melaksanakan puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, yaitu puasa di bulan Muharram (Puasa Tasu'a dan 'Asyura) dimana puasa 'Asyura pada tahun ini bertepatan dengan hari Kamis, yang mungkin ada sebagian kaum muslimin telah mendawamkan puasa sunnah Senin dan Kamis. Sehingga mendapatkan keutamaan pahala puasa sunnah hari Kamis dan puasa 'Asyura. Demikian pula bagi perempuan muslim untuk berniat lebih awal untuk puasa Tasu'a dan Asyura dari berjaga bila kemudian hari terkena udzur karena datangnya tamu rutin setiap bulan.

Pada Rabu dan Kamis, tanggal 13 dan 14 November 2013 bertepatan dengan tanggal 9 (Tasu'a) dan 10 ('Asyura) Muharram 1435 H Disunahkan untuk berpuasa. Puasa yang paling utama setelah puasa bulan Ramadhan adalah puasa pada tanggal 10 bulan Muharram (puasa Asyura).

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah SWT berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

"Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram" (QS. At Taubah: 36)

Imam Muslim serta yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةَ، صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”.

Dan puasa ‘Asyura menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu. Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah Radhiallahu’anhu

وَصَوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ إنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة َالتِيْ قَبْلَهُ

“Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”.

Orang-orang musyrik Quraisy Jahiliyah pada masa pra Islam dan bangsa Yahudi sangat memuliakan hari ini. Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga telah melaksanakan puasa 'Asyura. Bagaimana dengan kita ? 
Mereka menganggap hari tersebut adalah hari yang agung sehingga mereka melakukan penggantian kain Ka'bah (Kiswah) pada hari tersebut. Rasulullah SAW juga telah melaksanakan puasa Asyura sejak sebelum diangkat menjadi Nabi sampai saat beliau hijrah ke Madinah. Hal ini mengindikasikan, puasa 'Asyura diwarisi olek kaum Quraisy dari ajaran nabi Ibrahim AS. dan Ismail AS.

Bulan Muharram memiliki keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw. menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah. 
 Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadlan. Rasulullah saw. bersabda: 

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti  Musa as. dari mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa” (HR Bukhari).

Dan dari Aisyah radiyallahu ‘anha, ia mengisahkan,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. [HR Al Bukhari No 1897]

Dari Salamah bin Al-Akwa' RA berkata : Nabi SAW memerintahkan seseorang dari suku Aslam : "Umumkanlah kepada masyarakat bahwa barangsiapa tadi pagi telah makan, maka hendaklah ia berpuasa pada sisa harinya. Dan barangsiapa belum makan tadi pagi, maka hendaklah ia berpuasa. Karena hari ini adalah hari 'Asyura." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Rubayyi' binti Mu'awwidz RA berkata: "Rasulullah SAW mengirimkan seorang pemberi pengumuman pada hari 'Asyura ke kampung-kampung Anshar, untuk mengumumkan "Barangsiapa tadi pagi telah makan, hendaklah ia menyempurnakannya sampa akhir hari ini (berpuasa) dan barangsiapa telah berpuasa sejak tadi pagi, maka hendaklah ia berpuasa." Seja saat itu kami selalu berpuasa 'Asyura dan kami jadikan anak-anak kecil kami berpuasa 'Asyura. Kami membuatkan mainan boneka untuk mereka dari bulu domba. Jika salah seorang di antara mereka menangis karena lapar, maka kami berikan keoadanya mainan itu, begitulah sampai datangnya waktu berbuka." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sejarah Puasa Tasu'a

Jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf berpendapat bahwa hari ‘Asyura adalah hari ke-10 di bulan Muharram. sedangkan tanggal sembilan Muharram disebut Tasu'a.

Dari Abdillah bin Abbas Ra berkata : "Ketika Rasulullah SAW. melakukan puasa 'Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa 'Asyura, maka para sahabat berkata: "Wahai Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani." Maka beliau bersabda, Jika begitu, pada tahun mendatang kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan, Insya Allah." Ternyata tahun berikutnya belum datang, Rasulullah SAW telah wafat." (HR. Muslim No. 1134).

Pada hari inilah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam semasa hidupnya melaksanakan puasa ‘Asyura. Dan kurang lebih setahun sebelum wafatnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ َلأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ

“Jikalau masih ada umurku tahun depan, aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”
                                               
Para ulama berpendapat perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam , “…aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”, mengandung kemungkinan beliau ingin memindahkan puasa tanggal 10 ke tanggal 9 Muharram dan beliau ingin menggabungkan keduanya dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura. Tapi ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ternyata wafat sebelum itu maka yang paling selamat adalah puasa pada kedua hari tersebut sekaligus, tanggal 9 dan 10 Muharram.

Imam Asy-Syaukani dan Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan puasa ‘Asyura ada tiga tingkatan. Yang pertama puasa di hari ke 10 saja, tingkatan kedua puasa di hari ke 9 dan ke 10 dan tingkatan ketiga puasa di hari 9,10 dan 11.

-----------------------------------------------------------------------------------

“Jangan sampai kita kalah 3 kali”

Puasa Asyura telah dilakukan oleh orang-orang Quraisy jaman Jahiliyah, sehingga orang-orang jahiliyahpun melaksanakan puasa pada tanggal 10 Muharram. Kenapa kita tidak ? Demikian juga dengan bangsa Yahudi di Madinah juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Kenapa kita tidak ? semua dari anak-anak sampai yang dewasa disunahkan melakukan puasa pada 10 Muharram. Kenapa kita tidak ?

-----------------------------------------------------------------------------------
  

Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu


Rasulullah saw.  menjelaskan bahwa puasa pada hari 'Asyura  menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah berlalu.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَن صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ



Dari Abu Qatadah ra. Rasululllah rditanya tentang puasa hari 'asyura, beliau bersabda: "Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat."  (HR. Muslim).

Keutamaan puasa ‘Asyura 


Di masa hidupnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam berpuasa di hari ‘Asyura. Kebiasaan ini bahkan sudah dilakukan beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam sejak sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dan terus berlangsung sampai akhir hayatnya.

Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَومَ فَضْلِهِ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا اليَوْمِ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهذَا الشَّهْرُ يَعْنِي شَهْرُ رَمَضَانَ

“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”.

Hal ini menandakan akan keutamaan besar yang terkandung pada puasa di hari ini.
Selamat melaksanakan puasa Tasu'a dan 'Asyura.

Kamis, 07 November 2013

Pengajian Tahun Baru 1435 H

Pengajian Abah Hana pada 5 November 2013 di Bangunjiwo Bantul.
Meniru, dan mengikuti kebaikan guru-guru kita,
Memuliakan dan jangan meremehkan guru-guru kita.

Selasa, 05 November 2013

Tahun Baru 1435 H

Doa Akhir Tahun 1434 H :


Doa Awwal Tahun 1435 H :


Muhasabah :

Senin, 14 Oktober 2013

Selamat Idul Adha 1434 H (Sebuah Renungan)

Idul Adha – Renungan Dzulhijah 1434 H / 2013 M

Setiap tahun kaum Muslimin menyambut datangnya Hari Idul Adha dengan memperbanyak bacaan takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil. Mereka yang mampu juga menyembelih hewan kurban, disertai dengan merenungi diri masing-masing (mushabahah bin nafsih), sudah sejauh mana kita konsekuen dan konsisten dalam pelaksanaan syariat Islam. Semangat berkurban yang menjadi inti dari Hari Raya Idul Adha – menjadi tolok ukur dan gambaran tentang seberapa besar kesediaan kita untuk mengorbankan apa yang kita miliki demi kecintaan kita kepada Allah. Keteladanan Nabi Ibrahim AS menyembelih Ismail patut kita jadikan bahan renungan. Sepasang ayah dan anak yang saling mencintai rela berpisah dan melepas kecintaannya demi seorang ayah yang sangat mencintai anaknya untuk memenuhi perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim adalah cermin seorang ayah yang sangat mencintai anaknya, Ismail. Lebih-lebih Ismail terlahir setelah berdoa bertahun-tahun tiada henti kepada Allah, maka sejak kecil Ismail dirawat, dipelihara, dan dididik dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, kecintaannya tidak menjadikan sesuatu yang dicintainya sebagai tandingan akan kecintaannya kepada Allah. “Dan, di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintai sebagaimana mereka mencintai Allah,” [QS. Al Baqarah (2): 165].
Firman Allah SWT. Dalam QS. Al Baqarah (2): 165

šÆÏBur Ĩ$¨Z9$# `tB äÏ­Gtƒ `ÏB Èbrߊ «!$# #YŠ#yRr& öNåktXq6Ïtä Éb=ßsx. «!$# ( tûïÉ©9$#ur (#þqãZtB#uä x©r& ${6ãm °! 3 öqs9ur ttƒ tûïÏ%©!$# (#þqãKn=sß øŒÎ) tb÷rttƒ z>#xyèø9$# ¨br& no§qà)ø9$# ¬! $YèÏJy_ ¨br&ur ©!$# ߃Ïx© É>#xyèø9$# ÇÊÏÎÈ  
165. dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
[106] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.
Sementara Ismail adalah produk dan tempaan pendidikan yang penuh cahaya Islam dari orang tua. Sehingga, manakala Allah memerintahkan kepada ayahandanya untuk menyembelih dirinya dan melihat sedikit keraguan dalam diri ayahnya, Ibrahim, Ismail berseru sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an: “Wahai ayahandaku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar,” [QS. Ash Shaffat (37): 102].
Firman Allah SWT. Dalam QS. Ash Shaffat (37): 102

$¬Hs>sù x÷n=t/ çmyètB zÓ÷ë¡¡9$# tA$s% ¢Óo_ç6»tƒ þÎoTÎ) 3ur& Îû ÏQ$uZyJø9$# þÎoTr& y7çtr2øŒr& öÝàR$$sù #sŒ$tB 2ts? 4 tA$s% ÏMt/r'¯»tƒ ö@yèøù$# $tB ãtB÷sè? ( þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# z`ÏB tûïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÊÉËÈ  

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".
Menyimak hikmah yang terkandung di balik riwayat Nabi Ibrahim dan Ismail, tentunya kurban yang sebagaimana dimaksud tidak hanya sebatas aktivitas rutin memotong hewan ternak, sapi atau domba. Allah berfirman, Dalam QS. Al-Anfaal (8): 24

$pkšr'¯»tƒ z`ƒÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7ŠÉftGó$# ¬! ÉAqߧ=Ï9ur #sŒÎ) öNä.$tãyŠ $yJÏ9 öNà6ÍŠøtä ( (#þqßJn=ôã$#ur žcr& ©!$# ãAqçts šú÷üt/ ÏäöyJø9$# ¾ÏmÎ7ù=s%ur ÿ¼çm¯Rr&ur ÏmøŠs9Î) šcrçŽ|³øtéB ÇËÍÈ  

24. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu[605], ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya[606] dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.
[605] Maksudnya: menyeru kamu berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang dapat membinasakan musuh serta menghidupkan Islam dan muslimin. juga berarti menyeru kamu kepada iman, petunjuk Jihad dan segala yang ada hubungannya dengan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

[606] Maksudnya: Allah-lah yang menguasai hati manusia.

___________________________

Powered by: Blogger

"MENGABDI UNTUK BERBAKTI"

SOFTWARE ISLAMI

Program Ilmu Tajwid berbasis flash

download

Program Ensiklopedi Hadits 9 Imam (cuma sampel, yang asli silahkan beli :D )

download

Program Al-Quran in Microsoft Word

download

Quran Auto Reciter (Program Pembaca al-Quran dan Sekaligus Menampilkan Tulisan)

download

Hadits Web 3.0 (Al-quran & Terjemah, shahih Bukhari & Muslim, Hadits Arbain, Artikel Hadits)

download

MP3 ISLAMI / BERMANFAAT

Menghafal Surat Al-Fatihah bagi Anak dan Balita

download

Menghafal Surat Al-Ikhlash bagi Anak dan Balita

download

Menghafal Surat Al-Falaq bagi Anak dan Balita

download

Menghafal Surat An-Nas bagi Anak dan Balita

download

Bacaan Surat Al-Ahqaf by Muh. Thoha Al-Junaid

download

Bacaan Surat An-Naba' by Muh. Thoha Al-Junaid

download

Bacaan Surat Al-Muzammil by Ahmad Saud

download

MP3 Motivasi Andri Wongso: Dengan Ketekunan Batangan Besi Pun Bisa Jadi Jarum

download